Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Posted: 7 Maret 2011 in Bimbingan dan Konseling

PERILAKU KASAR DAN MELAWAN (AGRESIF)

By: Agus Ria Haniati


A. Pengertian

Perilaku agresif lebih menekan pada suatu yang bertujuan untuk menyakiti orang lain dan secara sosial tidak dapat diterima. Ada dua utama agresi yang saling bertentangan yakni untuk membela diri dan di pihak lain adalah untuk meraih keuntungan dengan cara membuat lawan tidak berdaya (Rita, 2005 : 105).

Istilah kekerasan (violence) dan agresif (agresion) memiliki makna yang hampir sama, sehingga sering kali dipertukarkan. Perilaku agresif selalu dipersepsi sebagai kekerasan terhadap pihak yang dikenai perilaku tersebut. Pada dasarnya perilaku agresif pada manusia adalah tindakan yang bersifat kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Menurut Sadorki dan Sadock (2003) bahaya atau pencederaan yang diakibatkan oleh perilaku agresif bisa berupa pencederaan fisikal, namun pula bisa berupa pencederaan non fisikal atau semisal yang terjadi akibat agresi verbal (Anantasari, 2006 : 63).

Dalam psikologi anak atau jenis lainnya psikologi, agresi adalah perilaku yang didefinisikan sebagai ekspresi kemarahan dan perilaku defensif yang ditimbulkan pada anggota spesies yang sama. Terdapat beberapa alasan untuk agresi ingin menyakiti atau merugikan orang lain atau menunjukkan dominasi.

Dari beberapa definisi agresif di atas dapat disimpulkan bahwa agresif adalah suatu ekspresi kemarahan dan perilaku defensive yang ditimbulkan dengan tindakan kekerasan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain dan tidak dapat diterima secara social.

 

B. Ciri-Ciri Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Anak-anak yang sering mengalami perilaku yang menyimpang atau perilaku agresifnya biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menyakiti/merusak diri sendiri, orang lain.

Perilaku agresif termasuk yang dilakukan anak hamper pasti menimbulkan adanya bahaya berupa kesakitan yang dapat dialami oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain.

  1. Tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasarannya.

Perilaku agresif, terutama agresi yang keluar pada umumnya juga memiliki sebuah ciri yaitu tidak diinginkan oleh organisme yang menjadi sasarannya.

  1. Seringkali merupakan perilaku yang melanggar norma social.

Perilaku agresif pada umumnya selalu dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma sosial. Dari berbagai ciri-ciri diatas,guru hendaklah memperhatikan perkembangan anak didiknya.Pemahaman lebih dini rupanya menjadi penting sehingga dapat dilakukan berbagai hal bijaksana yang dapat mengantisipasi perilaku agresif pada anak tersebut (Anantasari, 2006: 90)

 

C. Sebab-sebab atau Latar Belakang Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Dalam Surya (2004: 45 –  48) disebutkan bahwa factor pencetus anak suka berperilaku suka agresif, antara lain:

1.      Anak merasa kurang diperhatikan atau merasa terabaika.

2.      Anak selalu merasa tertekan, karena selalu mendapat perlakuan kasar.

3.      Anak kurang merasa dihargai atau disepelekan.

4.      Tumbuhnya rasa iri hati anak.

5.      Sikap agresif merupakan cara berkomunikasi anak.

6.      Pengaruh kekurangharmonisan hubungan dalam keluarga.

7.      Pengaruh tontonan aksi-aksi kekerasan dari media TV.

8.      Pengaruh pergaulan yang buruk

Sumber lain menyebutkan ada dua macam sebab yang mendasari tingkah laku agresif pada anak, yaitu:

1.      Pertama, tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau melawan orang lain. Macam tingkah laku agresif ini biasanya ditandai dengan kemarahan atau keinginan untuk menyakiti orang lain.

2.      Kedua, tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap mempertahankan diri terhadap serangan dari luar.

Penyebab perilaku agresif digolongkan dalam beberapa factor yakni :

  1. Faktor Biologis

a.       Sistem Otak

Para peneliti yang menyelidiki kaitan antara cedera kepala dan perilaku kekerasan mengidentifikasikan betapa kombinasi pencederaan fisikal yang pernah dialami. Cedera kepala mungkinikut melandasi perilaku agresif. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau memperlambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang pernah mengalami kesenangan, kegembiraan cenderung untuk melakukan kekejaman atau penghancuran. Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurangnya rangsangan sewaktu bayi.

b.      Gen

Merupakan faktor yang tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi.

c.       Kimia Darah

Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditemukan pada faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresif (Rita, 2005 : 107).

  1. Faktor Lingkungan

a.       Kemiskinan

Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresif mereka secara alami mengalami perbuatan (Byod Mc Cendles dalam Davidoff). Hal ini dapat dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari apalagi di kota-kota besar, dalam antrian lampu merah, perempatan jalan. Model agresi modeling sering kali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dan pertahanan hidup.

b.      Anonimitas

Terlalu banyak rangsangan indra kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal artinya antara satu orang dengan orang yang lain tidak saling mengenal. Setiap individu menjadi anonym tidak mempunyai identitas. Bila seorang mempunyai anonim ia cenderung berperilaku menyendiri.

c.       Suhu Udara Panas

Pengaruh polusi udara, kebisingan dan kesesakan karena kondisi manusia yang terlalu berjejal. Kondisi-kondisi itu bisa melandasi perilaku agresif (Rita, 2005 : 108)

  1. Faktor Psikologis

a.       Perilaku Naluriah

Menurut Sigmund Freud, dalam diri manusia ada naluri kematian yang ia sebut pula thanatos yaitu energi yang tertuju untuk perusakan. Agresi terutama berakar dalam naluri kematian yang diarahkan bukan ke dalam diri sendiri melainkan diarahkan pada orang lain.

b.      Perilaku Yang Dipelajari.

Menurut Albert Bandura perilaku agresif berakar dalam respons-respons yang dipelajari manusia lewat pengalamanpengalaman di masa lampau (Anantasari, 2006 : 64)

  1. Faktor Sosial

a.       Reaksi Emosi Terhadap Frustasi

Tidak diragukan lagi pengaruh frustasi dalam peryakan perilaku agresif. John Dollad berpendapat frustasi bias mengakari agresif. Kendati demikian tidak setiap anak yang mengalami frustasi seta merupakan agresi. Agresivitas muncul akibat banyaknya larangan yang diperbuat guru dan orang tua. (Rosmala, 2005 : 112)

 

b.      Provokasi Langsung

Pencederaan fiskal dan ejekan verbal dari orang-orang lain bisa memicu perilaku agresif. Perilaku ini biasanya dilakukan karena anak kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekelilingnya dan anak akan terus akan mencari perhatian. Orang tua anak yang agresif biasanya mempunyai gejolak emosi yang buruk dan situasi emosional perkawinan sebagai reaksi dari penolakan. Akibatnya anak melakukan agresi sebagai reaksi dari penolakan oleh orang tua.

c.       Peniruan (Modeling)

Semua perilaku tidak terkecuali agresif lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Peniruan tidak dilakukan pada semua orang tetapi terhadap figur tertentu seperti ayah, ibu, kakak, atau teman bermainnya yang memiliki perilaku agresif. Orang tua sering bertengkar menyebabkan anak juga akan sering bertengkar. Terdapat kaitan antara agresi dan paparan tontonan kekerasan lewat televisi. Semakin banyak anak menonton kekerasan lewat televisi, maka tingkata agresi anak terhadap orang lain bisa meningkat pula. Ternyata pengaruh tontonan kekerasan lewat televisi bersifat komulatif artinya makin panjang paparan tontonan kekerasan semakin meningkat pula perilaku agresinya. Aletha Stein (Davidoff, 1991) mengemukakan bahwa anak yang memiliki kadar agresi di atas normal akan lebih cenderung berlaku agresif. Maka setelah menyaksikan adegan kekerasan ia akan bertindak seperti terhadap orang lain. (Anantasari, 2006 : 65)

  1. Faktor Situasional

Termasuk dalam faktor ini antara lai adalah rasa sakit, terluka yang dialami anak. Perasaan anak yang terluka entah karena rasa kesal, marah, kecewa, sedih dan ia tidak tahu bagaimana cara semestinya untuk mengungkapkan perasaan-perasaan itu, maka ia melampiaskan dengan perilaku agresif. (Anantasari, 2006 : 66)

 

D. Bahaya yang Timbul Dari Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Agresivitas memiliki dampak sosial yang luas. Agresivitas seorang anak bisa berpengaruh terhadap situasi sosial dilingkungannya. Agresivitas juga bersifat langsung dan sangat berpengaruh terhadap diri anak. Apabila perilaku agresif tidak segera ditangani dan tidak mendapat perhatian dari orang tua maupun pendidiknya, maka akan berpeluang besar menjadi yang persistent atau menetap. Di lingkungan sekolah anak agresif cendedrung ditakuti dan dijauhi teman-temannya dan ini dapat menimbulkan masalah baru karena anak terisolir dari lingkungan disekelilingnya. Perilaku agresif yang dibiarkan begitu saja, pada saat remaja nanti akan menjadi juvenite deliquence yakni perilaku khas kenakalan remaja. Dengan deemikian, perilaku agresif dari sejak anak berusia dini berpengaruh pada perkembangan-perkembangan anak selanjutnya.

 

E. Cara Mengatasi Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Dalam Surya (2004: 49 – 51) ada beberapa langkah pendekatan yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi perilaku anak suka agresif, antara lain:

1.      Jika melihat anak secara langsung bersikap agresif terhadap temannya, berusahalah untuk mencegahnya dengan tanpa menyinggung perasaan anak.

2.      Kita harus memperlakukan anak dengan sabar, kita tidak boleh bersikap agresif menghadapi anak yang suka agresif.

3.      Dengarkan suara hati anak.

4.      Ajarkan pada anak cara bergaul dengan baik dan menyenangkan.

5.      Kita bisa mendampingi dan mengawasi anak saat bermain bersama teman atau saudaranya.

6.      Kita bisa membatasi jumlah teman bermain anak.

7.      Ciptakan suasana kebersamaan dalam keluarga.

8.      Damping anak ketika nonton TV

Dalam (Sobur, 1987) dijelaskan bahwa untuk menanggapi sikap agresif anak-anak, kita perlu melacak dua macam jalan keluarnya. Pertama, bagaimana mengurangi sikap agresifnya pada saat ini. Sedangkan jalan keluar yang lebih berjangka panjang adalah mencegah timbulnya sikap agresif dimasa yang akan datang. Apapun yang dipilih untuk menyalurkan dorongan agresifnya ini, tetap berarti bahwa dorongan agresif itu sendiri harus disalurkan dengan sebaik-baiknya. Perbuatan orangtua untuk setiap kali menyuruh diam anak-anak yang sedang bertengkar, atau menghukum anak setiap kali habis berkelahi dengan temannya adalah kurang bijaksana.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anantasari. 2006. Menyikapi Perilaku Agresif Anak, Yogyakarta : KANISUS

Dewi, Rosmala. 2005. Berbagai Masalah Anak TK, Jakarta: Depdiknas

Ezzaty, Eka Rita. 2005. Mengenali Permasalahan Perkembangan Anak Usia TK. Jakarta ; Depdiknas

Sobur, Alex. 1987. Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Surya, Hendra. 2004. Kiat Mengatasi Perilaku Penyimpangan Perilaku Anak (Usia 3 – 12 Tahun). Jakarta: PT Elex media Komputindo.

http://www.scumdoctor.com/Indonesian/parenting/child-psychology/Child-Psychology-And-Aggresive-Behaviour.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s