MEMPERBAIKI CITRA KONSELOR SEKOLAH MELALUI PENEGAKAN KODE ETIK PROFESI

By: Agus Ria Haniati

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Profesi adalah suatu hal yang harus dibarengi dengan keahlian dan etika. Meskipun sudah ada aturan yang mengatur tentang kode etik profesi, namun seperti kita lihat saat ini masih sangat banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran ataupun penyalah gunaan profesi.

Adanya pelanggaran-pelanggaran ataupun penyalahgunaan profesi konselor di sekolah meyebabkan citra konselor di sekolah saat ini masih belum bisa dikatakan baik. Banyak hal yang melatar belakangi buruknya citra konselor di sekolah, mulai dari sikap konselor dan tugas konselor yang memang kurang jelas dan disalah gunakan oleh pihak sekolah itu sendiri. Konselor yang bertugas sebagai “polisi sekolah” dan menjadi momok menakutkan bagi siswa-siswanya, terutama siswa-siswa yang sering melakukan pelanggaran dan “nakal”.

Adanya konselor yang berasal bukan dari lulusan Bimbingan dan Konseling membuat kondisi BK di sekolah semakin memprihatinkan, dan adanya konselor sekolah yang memang dari lulusan BK namun kurang menjunjung tinggi kode etik profesinya membuat keberadaan konselor kurang diperhitungkan dan dianggap tidak penting bagi para siswanya sendiri. Karenanya penting bagi para konselor sekolah benar-benar memperjuangkan agar citranya menjadi positif dan dapat benar-benar bermanfaat bagi para siswa dan seluruh warga ssekolah sesuai dengan tugas sebenarnya sebagai konselor. Dengan penegakan kode etik konselor diharapkan dapat memperbaiki kembali citra buruk konselor yang ada selama ini.

Kasus nyata yang telah saya jumpai dibeberapa sekolah, yaitu misalnya di SMP Al-Azhar 14, Semarang dan SMP Islam Hidayatullah, kedua sekolah ini mempercayakan guru BK yang mendampingi siswa bukan berasal dari lulusan S1 Bimbingan dan Konseling, melainkan dari lulusan Psikologi. Di SMP Negeri 1 Reban, SMA Negeri 1 Rembang yang memiliki guru BK asli dari lulusan BK, masih menjadikan guru BK sebagai “polisi sekolah” dan mengawasi sikap dan tingkah laku siswa nakal.

Bukti-bukti tersebut menjelaskan bahwa masih banyak konselor sekolah yang belum menegakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan kode etik konselor, karenanya banyak terjadi malpraktik, mengalami penurunan mutu profesi, dan kurangnya terjaganya standarisasi mutu professional konselor di sekolah. Dengan adanya kasusdan masalah yang selama ini memperburuk citra konselor-konselor sekolah ini penulis kemudian mengadakan seminar dengan judul “Memperbaiki Citra Konselor Sekolah Melalui Penegakan Kode Etik Profesi”.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

1.      Apa pengertian kode etik profesi?

2.      Apa fungsi dan tujuan dari kode etik profesi konselor itu?

3.      Bagaimanakah ruang lingkup dan materi dalam kode etik profesi konselor?

4.      Bagaimana pengembangan profesi bimbingan dan konseling?

5.      Bagaimana peran kode etik profesi dalam memperbaiki citra konselor sekolah?

C. Tujuan

Tujuan yang diharapkan dari adanya makalah ini adalah:

1.      Mengetahui pengertian kode etik profesi

2.      Untuk mengetahui fungsi dan tujuan dari kode etik profesi konselor

3.      Untuk mengetahui ruang lingkup dan materi dalam kode etik profesi konselor

4.      Untuk mengetahui pengembangan profesi bimbingan dan konseling

5.      Agar dapat mengetahui peran kode etik profesi dalam memperbaiki citra konselor sekolah.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kode Etik Profesi

1. Pengertian Etika

Husna Elviza (2009) menyebutkan bahwa Etika Berasal dari bahasa Yunani Ethos, Yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu atau masyarakat untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

Menurut Martin (1993), dalam Husna Elviza (2009) etika didefinisikan sebagai “the discipline which can act as the performance index or reference for our control system”. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri

2. Pengertian Profesi

Dalam Prayitno; Erman Amti (2004) disebutkan bahwa profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut profesi itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu.

Profesi merupakan pekerjaan atau karir yang bersifat pelayanan bantuan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk kebahagiaan pengguna berdasarkan norma-norma yang berlaku. Kekuatan dan eksistensi profesi muncul sebagai akibat interaksi timbal balik antara kinerja tenaga profesional dengan kepercayaan publik (publik trust), (Dirjen Dikti Depdiknas, 2004).

3. Pengertian Kode Etik Profesi

Kode Etik Dapat diartikan pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku. Dalam kaitannya dengan profesi, bahwa kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standart kegiatan anggota suatu profesi. Suatu kode etik menggambarkan nilai-nilai professional suatu profesi yang diterjemahkan kedalam standaart perilaku anggotanya. Nilai professional paling utama adalah keinginan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat (Husna Elviza, 2009).

Kode etik profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap tenaga profesi dalam menjalankan tugas profesi dan dalam kehidupannya dimasyarakat. Norma-norma itu berisi apa yang tidak boleh, apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang diharapkan dari tenaga profesi. Pelanggaran terhadap norma-norma tersebut akan mendapat sanksi (Dirjen Dikti Depdiknas, 2004).

Kode etik merupakan suatu aturan yang melindungi profesi dari campur tangan pemerintah, mencegah ketidak sepakatan internal dalam suatu profesi, dan melindungi atau mencegah para praktisi dari perilaku-perilaku malpraktik (Pengurus Besar ABKIN, 2005).

Dari beberapa pendapat tentang pengertian yang telah dipaparkan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kode etik profesi adalah pola aturan atau norma-norma, tata cara dan pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang harus diindahkan oleh setiap tenaga profesi, yang melindungi profesi dari campur tangan pemerintah, mencegah ketidak sepakatan internal dalam suatu profesi, dan melindungi atau mencegah para praktisi dari perilaku-perilaku malpraktik.

B. Fungsi dan Tujuan Kode Etik Profesi Konselor

1. Fungsi

Husna Elviza, 2009, menyatakan bahwa pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang dikemukakan Gibson dan Michel (1945 : 449) yang lebih mementingkan pada kode etik sebagai pedoman pelaksanaan tugas prosefional dan pedoman bagi masyarakat sebagai seorang professional.

Biggs dan Blocher ( 1986 : 10) dalam Husna Elviza, 2009, mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu:

a.       Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah

b.      Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi

c.       Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.

Sutan Zahri dan Syahmiar Syahrun (1992) mengemukakan empat fungsi kode etik guru bagi guru itu sendiri, antara lain :

a.       Agar guru terhindar dari penyimpangan tugas yang menjadi tanggung jawabnya

b.      Untuk mengatur hubungan guru dengan murid, teman sekerja, masyarakat dan pemerintah

c.       Sebagai pegangan dan pedoman tingkah laku guru agar lebih bertanggung jawab pada profesinya

d.      Pemberi arah dan petunjuk yang benar kepada mereka yang menggunakan profesinya dalam melaksanakan tugas.

2. Tujuan

Ditegakannya kode etik profesi bertujuan untuk:

a.       Menjunjung tinggi martabat profesi

b.      Melindungi pelanggaran dari perbuatan mala-praktik

c.       Meningkatkan mutu profesi

d.      Menjaga standard mutu dan status profesi

e.       Menegakkan ikatan antara tenaga profesi dan profesi yang disandangnya (Pengurus Besar ABKIN, 2005).

Senada dengan apa yang disebutkan dalam ABKIN, Husna Elviza, 2009 menyebutkan bahwa tujuan dari kode etik profesi adalah:

a.       Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.

b.      Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.

c.       Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

d.      Untuk meningkatkan mutu profesi.

e.       Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

f.       Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.

g.      Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

h.      Menentukan baku standarnya sendiri.

C. Ruang Lingkup dan Materi Kode Etik Profesi

Kode etik profesi konseling meliputi hal-hal yang bersangkut paut dengan kompetensi yang dimiliki, kewenangan dan kewajiban tenaga profesi konseling, serta cara-cara pelaksanaan layanan yang dilakukan dalam kegiatan profesi. Ruang lingkup dan materi kode etik profesi konseling diadopsi dari kode etik konseling ABKIN yang diberlakukan.

Kode etik konseling yang diberlakukan oleh ABKIN saat ini adalah sebagai berikut:

KODE ETIK PROFESI KONSELOR INDONESIA

(ASOSIASI BIMBINGAN KONSELING INDONESIA)

BAB I

PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia Merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku  profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap profesional Bimbingan dan Konseling Indonesia

B. DASAR KODE ETIK PROFESI BK

Dasar Kode Etik Profesi bimbingan dan konseling adalah (a) pancasila, mengingat bahawa profesi bimbingan dan konseling merupakan usaha pelayanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga indonesia yang bertanggung jawab, dan (b) tuntutan profesi, mengacu kepada kebutuhan dan kebahagiaan  klien sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

 

BAB II

KUALIFIKASI  DAN KEGIATAN  PROFESIONAL KONSELOR

A. KUALIFIKASI

Konselor harus memiliki (1) nilai, sikap. Ketrampilan, pengetahuan dan wawasan dalam bidang profesi bimbingan dan konseli, (2) Memperoleh pengakuan atas kemampuan dan kewenangan sebagai konselor.

1. Nilai, sikap, ketrampilan, pengetahuan dan wawasan yang harus dimiliki konselor

a.       Konselor wajib terus-menerus berusaha mengembangkan dan menguasai dirinya

b.      Konselor wajib memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercaya, jujur, tertib dan hormat

c.       Konselor wajib memeiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan seprofesi yang berhubungan dgn pelaksanaan ketentuan tingkah laku profesional

d.      Konselor wajib mengusahakan mutu kerja yang tinggi dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi termasuk material, finansial dan popularitas

e.       Konselor wajib trampil dlm menggunakan tekhnik dan prosedur khusus dgn wawasan luas dan kaidah-kaidah ilmiah

2. Pengakuan Kewenangan

a.       Pengakuan Keahlian

b.      Kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yg diberikan kepadanya.

 

B. INFORMASI, TESTING DAN RISET

1. Penyimpanan dan penggunaan Informasi

a.       Catatan tentang diri klien spt; wawancara, testing, surat-menyurat, rekaman dan data lain merupakan informasi yg bersifat rahasia dan hanya boleh dipergunakan untuk kepentingan klien.

b.      Penggunaan data/informasi dimungkinkan untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor sepanjang identitas klien dirahasiakan.

c.       Penyampaian informasi ttg klien kepada keluarganya atau anggota profesi lain membutuhkan persetujuan klien

d.      Penggunaan informasi ttg Klien dalam rangka konsultasi dgn anggota profesi yang sama atau yang lain dpt dibenarkan asalkan kepentingan klien dan tidak merugikan klien

e.       Keterangan mengenai informasi profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya.

2. Testing

a.       Suatu jenis tes hanya diberikan oleh konselor yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.

b.      Testing dilakukan bila diperlukan data yang lebih luas ttg sifat, atau ciri kepribadian subyek untuk kepentingan pelayanan

c.       Konselor wajib mmebrikan orientasi yg tepat pada klien dan orang tua mengenai alasan digunakannya tes, arti dan kegunaannya.

d.      Penggunaan satu jenis tes wajib mengikuti pedoman atau petunjuk yg berlaku bg tes tsb.

e.       Data hasil testing wajib diintegrasikan dgn informasi lain baik dari klien maupun sumber lain,

f.       Hasil testing hanya dapat diberitahukan pada pihak lain sejauh ada hubungannya dgn usaha bantuan kepada klien

 

3. Riset

a.       Dalam mempergunakan riset thdp manusia, wajib dihindari hal yang merugikan subyek

b.      Dalam melaporkan hasil riset, identitas klien sebagai subyek wajib dijaga kerahasiannya.

 

C. PROSES PELAYANAN

1. Hubungan dalam Pemberian Pelayanan

a.       Konselor wajib menangani klien selama ada kesempatan dalam hubungan antara klien degan konselor

b.      Klien sepenuhnya berhak mengakhiri hubungan dengan konselor, meskipun proses konseling belum mencapai hasil konkrit

c.       Sebaliknya Konselor tidak akan melanjutkan hubungan bila klien tidak memperoleh manfaat dari hubungan tsb. 

2. Hubungan dengan Klien

a.       Konselor wajib menghormati harkat, martabat, integritas dan keyakinan klien

b.      Konselor wajib menempatkan kepentingan kliennya diatas kepentingan pribadinya

c.       Konselor tidak diperkenankan melakukan diskriminasi atas dasar suku, bangsa, warna kulit, agama, atau status sosial tertentu

d.      Konselor  tidak akan memaksa seseorang untuk memberi bantuan pada seseorang tanpa izin dari orang yang bersangkutan

e.       Konselor wajib memebri pelayanan kepada siapapun terlebih dalam keadaan darurat atau banyak orang menghendakinya

f.       Konselor wajib memberikan pelayan hingga tuntas sepanjang dikehendaki klien

g.      Konselor wajib menjelaskan kepada klien sifat hubungan yg sedang dibina dan batas-batas tanggung jawab masing-masing dalam hubungan profesional

h.      Konselor wajib mengutamakan perhatian terhadap klien

i.        Konselor tidak dapat memberikan bantuan profesional kepada sanak saudara, teman-teman karibnya sepanjang hubunganya profesional.

 

D. KONSULTASI DAN HUBUNGAN DENGAN REKAN SEJAWAT

1. Konsultasi dengan Rekan Sejawat

Jikalau Konselor merasa ragu dalam pemberian pelayanan konseling, maka Ia wajib berkonsultasi dengan rekan sejawat selingkungan profesi dengan seijin kliennya.

2. Alih Tangan kasus

a.       Konselor wajib mengakhiri hubungan konseling dengan klien bila dia menyadari tidak dapat memberikan bantuan pada klien

b.      Bila pengiriman ke ahli disetujui klien, maka menjadi tanggung jawab konselor menyarankan kepada klien dengan bantuan konselor untuk berkonsultasi kepada orang atau badan yang punya keahlian yg relevan.

c.       Bila Konselor berpendapat bahwa klien perlu dikirm ke ahli lain, namun klien menolak pergi melakukannya, maka konselor mempertimbangkan apa baik dan buruknya.

 

BAB III

HUBUNGAN KELEMBAGAAN

A. Prinsip Umum

1.      Prinsip Umum dalam pelayanan individual, khususnya mengenai penyimpanan serta penyebaran informasi klien dan hubungan kerahasiaan antara konselor dengan klien berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan kelembagaan

2.      Jika konselor bertindak sebagai konsultan di suatu lembaga,Sebagai konsultan, konselor wajib tetap mengikuti dasar-dasar pokok profesi Bimbingan dan Konselor tidak bekerja atas dasar komersial.

 

B. Keterikatan Kelambagaan

1.      Setiap konselor yang bekerja dalam siuatu lembaga, selama pelayanan konseling tetap menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya.

2.      Konselor wajib memepertanggungjawabkan pekerjaannya kpd atasannya, namun berhak atas perlindungan dari lembaga tersebut dalam menjalankan profesinya.

3.      Konselor yang bekerja dalam suatu lembaga wajib mengetahu program kegiatan lembaga tersebut, dan pekrjaan konselor dianggap sebagai sumbangankhas dalam mencapai tujuan lembaga tersebut.

4.      Jika Konselor tidak menemukan kecocokan mengenai ketentuan dan kebijaksanaan lembaga tersebut, maka konselor wajib mengundurkan diri dari lembaga tersebut.

 

BAB IV

PRAKTEK MANDIRI DAN LAPORAN KEPADA PIHAK LAIN

A. Konselor Praktik Mandiri

1.      Konselor yang praktek mandiri (privat) dan tidak bekerja dalam hubungan kelembagaan tertentu, tetap mentaati kode etik jabatan sebagai konselor dan berhak mendapat perlindungan dari rekan seprofesi.

2.      Konselor Privat wajib memperoleh izin praktik dari organisasi profesi yakni ABKIN.

 

B. Laporan pada Pihak Lain

Jika Konselor perlu melaporkan sesuatu hal ttg klien pada pihak lain (spt: pimpinan tempat dai bekerja), atau diminta oleh petugas suatu badan diluar profesinya, dan ia wajib memberikan informasi tsb, maka dalam memberikan informasi itu ia wajib bijaksana dgn berpedoman pada suatu pegangan bhw dgn berbuat begitu klien tetap dilindungi dan tidak dirugikan.

 

BAB V

KETAATAN PADA PROFESI

A. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban

1.      Dalam melaksanakan hak dan kewajibannya Konselor wajib mengaitkannya dengan tugas dan kewajibannya terhadap klien dan profesi sesuai kode etik untuk kepentingan dan kebahagiaan klien

2.      Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya sebagai konselor untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud lain yang merugikan klien, atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yg tidak wajar

 

B. Pelanggaran terhadap Kode Etik

1.      Konselor wajib mengkaji secara sadar tingkah laku dan perbuatannya bahwa ia mentaati kode etik

2.      Konselor wajib senantiasa mengingat bahwa setiap pelanggaran terhadap kode etik akan merugikan diri sendiri, klien, lembaga dan pihak lain yang terkait

3.      Pelanggaran terhadap kode etik akan mendapatkan sangsi berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh ABKIN

 

D. Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling

Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui (a) standarisasi unjuk kerja profesi konselor, (b) standarisasi penyiapan konselor, (c) akreditasi, (d) sertifikasi dan lisensi, (e) pengembangan organisasi profesi (Munandir, 1996: 341).

1. Standarisasi unjuk kerja profesi konselor

Banyak anggapan bahwa pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja, dengan syarat mampu berkomunikasi dan berwawancara, dan anggapan bahwa playanan bimbingan dan konseling semata-mata diarahkan kepada pemberian bantuan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah dalam arti yang sempit saja. Lebih dari itu pelayanan bimbingan dan konseling juga mencakup berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu kepada terwujudnya fungsi-fungsi yang luas. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan yang dilakukan menuntut adanya unjuk kerja profesional tertentu.

Walaupun di indonesia sendiri belum ada rumusan tentang unjuk kerja profesional konselor yang standart, namun usaha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah dilakukan. Rumusan tentang unjukl kerja itu mengacu kepada wawasan dan keterampilan yang hendaknya dapat ditampilkan oleh para lulusan program studi bimbingan dan konseling.

2. Standarisasi penyiapan konselor

Tujuan penyiapan konselor adalah agar para (calon) konselor memiliki wawasan dan menguasai serta dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya materi dan keterampilan yang terkandung di dalam butir-butir rumusan unjuk kerja.penyiapan konselor dilakukan dengan program pendidikan prajabatan, program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan (seperti penataran).

a.         Seleksi/penerimaan mahasiswa baru

Seleksi atau pemilihan calon mahasiswa merupakan tahap awal dalam proses penyiapan konselor. Kegiatan ini memegang peranan yang amat penting dan menentukan dalam upaya memperoleh calon konselor yang diharapkan.

b.         Pendidikan konselor

Pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai diharuskan untuk dapat diiliki oleh para calon konselor agar dapat melaksanakan tugas-tugas dalam bidang bimbingan dan konseling, dan kesemuanya itu diperoleh melalui pendidikan khusus.

c.         Akreditasi

Lembaga pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk menjamin mutu lulusannya. Akreditasi ini dikenakan terhadap lembaga pendidikan, baik milik pemerintah maupun swasta. Penyelenggaraan akreditasi ialah pemerintah dengan bantuan organisasi profesi bimbingan dan konseling.

Prayitno dan Erman Amti, 2004: 348 menyebutkan bahwa akreditasi merupakan prosedur yang secara resmi diakui bagi suatu profesi untuk mempengaruhi jenis dan mutu anggota profesi yang dimaksud (Steinhouser & Bradley, dalam Prayitno, 1987).

d.        Sertifikasi dan lisensi

Sertifikasi merupakan upaya lebih lanjut untuk lebih memantapkan dan menjamin profesionalisasi bimbingan dan konseling. Para lulusan pendidikan konselor yang akan bekerja dilembaga-lembaga pemerintahan, misalnya di sekolah-sekolah, diharuskan menempuh program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah.

e.         Pengembangan organisasi profesi

Organisasi profesi adalah himpunan orang-orang yang mempunyai profesi yang sama. Tujuan dari organisasi profesi dapat dirumuskan ke dalam “tri darma organisasi profesi” yang saling bersangkutan dan saling menunjang satu sama lainnya, yaitu:

(1)   Pengembangan ilmu

(2)   Pengembangan pelayanan

(3)   Penegakan kode etik profesional

E. Peran Kode Etik Profesi Dalam Memperbaiki Citra Konselor Sekolah.

Kode etik merupakan tanggung jawab setiap individu konselor yang menuntut disiplin diri yang tinggi untuk mentaati dan menegakannya. Karenanya konselor perlu mempelajari dengan seksama kode etik yang berlaku dengan tujuan menguasai dan menerapkannya.

Dalam Munandir (1996), disebutkan bahwa dalam kode etik yang dikeluarkan IPBI (sekarang ABKIN) tercantum pengertian dan perlunya kode etik bagi konselor. Jelas tujuan itu, yaitu agar konselor dapat “…. menjaga standar mutu dan status profesinya….sehingga dapat dihindarkan kemungkinan-kemungkinan penyimpangan-penyimpangan tugas….”. kode etik pada hakikatnya adalah wahana bagaimana suatu profesi menjaga status pengaturan diri dengan mengatur dan mengendalikan sendiri perilaku anggotanya waktu bekerja/di tempat kerja. Hal ini juga mencerminkan adanya otonomi profesi, berbeda halnya dengan pekerjaan bukan profesi.

Lebih lengkap lagi disebutkan dalam Kode Etik Jabatan Konselor, yang dikeluarkan oleh IPBI, BAB II, tentang perlunya kode etik jabatan yaitu: “ kode etik diperlukan agar konselor tetap dapat menjaga standar mutu dan status profesinya dalam batas-batas yang jelas dengan profesi lain, sehingga dapat dihindarkan kemungkinan penyimpangan-penyimpangan tugas oleh mereka yang tidak langsung berkecimpung dalam bidang tersebut. Kode etik ini diperuntukan bagi para pembimbing yang memberikan layanan bimbingan berupa konseling, dengan pengertian bahwa layanan konseling tersebut dapat dibedakan dari bentuk-bentuk layanan bimbingan yang lain, karena sifat-sifat khas dari layanan bimbingan yang disebut konseling. Pembimbing yang lain, yang bukan sekaligus konselor, mungkin dapat mengambil ilham dari keyakinan-keyakinan yang menjiwai kode etik ini.

Dengan melihat dari perlunya kode etik itu sendiri dibuat, maka jelas dapat terlihat bahwa peran kode etik profesi dalam memperbaiki citra konselor yang belakangan ini masih buruk sangatlah penting dan begitu membantu. Dengan adanya kode etik dapat mengatur bagaimana para konselor sekolah bertindak dan berperilaku baik saat memberikan layanan maupun dalam kesehariannya. Karena citra buruk yang selama ini melekat pada konselor sekolah disebabkan kurangnya penegakan kode etik jabatan dari para konselor itu sendiri. Sehingga untuk mengembalikan citra konselor menjadi baik, dan meminimalisir terjadinya pelanggaran dan penyalah gunaan profesi, dapat dilakukan dengan penegakan kode etik profesi itu sendiri.

Kode etik profesi mengikat para pelaksana profesi konseling dalam menjalankan kegiatan profesionalnya. Kesalahan-kesalahan yang diperbuat akan diberikan sanksi sesuai dengan aturan yang ada didalam kode etik tersebut, sanksi ini diberikan oleh organisasi profesi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari beberapa pendapat tentang pengertian yang telah dipaparkan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kode etik profesi adalah pola aturan atau norma-norma, tata cara dan pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang harus diindahkan oleh setiap tenaga profesi, yang melindungi profesi dari campur tangan pemerintah, mencegah ketidak sepakatan internal dalam suatu profesi, dan melindungi atau mencegah para praktisi dari perilaku-perilaku malpraktik.

Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan pengembangan bagi profesi. Tujuan dari kode etik profesi adalah:

a.         Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.

b.         Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.

c.         Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

d.        Untuk meningkatkan mutu profesi.

e.         Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

f.          Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.

g.         Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

h.         Menentukan baku standarnya sendiri.

Kode etik profesi konseling meliputi hal-hal yang bersangkut paut dengan kompetensi yang dimiliki, kewenangan dan kewajiban tenaga profesi konseling, serta cara-cara pelaksanaan layanan yang dilakukan dalam kegiatan profesi. Ruang lingkup dan materi kode etik profesi konseling diadopsi dari kode etik konseling ABKIN yang diberlakukan.

Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui (a) standarisasi unjuk kerja profesi konselor, (b) standarisasi penyiapan konselor, (c) akreditasi, (d) sertifikasi dan lisensi, (e) pengembangan organisasi profesi.

Kode etik profesi sangatlah penting untuk memperbaiki citra konselor, terutama di sekolah-sekolah, karena Kode etik profesi mengikat para pelaksana profesi konseling dalam menjalankan kegiatan profesionalnya. Kesalahan-kesalahan yang diperbuat akan diberikan sanksi sesuai dengan aturan yang ada didalam kode etik tersebut, sanksi ini diberikan oleh organisasi profesi.

 

B. Saran

Saran dari penulis untuk dapat memajukan penegakan kode etik:

1.         Setiap undang-undang mencantumkan dengan tegas sanksi yang diancamkan kepada pelanggarnya. Dengan demikian, menjadi pertimbangan bagi warga, tidak ada jalan lain kecuali taat, jika terjadi pelanggaran berarti warga yang bersangkutan bersedia dikenai sanksi yang cukup memberatkan atau merepotkan baginya. Ketegasan sanksi undang-undang ini lalu diproyeksikan dalam rumusan kode etik profesi yang memberlakukan sanksi undang-undang kepada pelanggarnya.

2.         Dalam kode etik profesi dicantumkan ketentuan: “Pelanggar kode etik dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan undang- undang yang berlaku “.

3.         Untuk memperoleh legalisasi, ketua kelompok profesi yang bersangkutan mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat agar kode etik itu disahkan dengan akta penetapan pengadilan yang berisi perintah penghukuman kepada setiap anggota untuk mematuhi kode etik itu.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta: DIRJEN DIKTI DEPDIKNAS.

Elviza, Husna. 2009. Pentingnya Menjalankan Profesi Secara Etis. http://e3l.blogspot.com/2009/05/makalah-kode-etik-profesi.html.

Munandir. 1996. Program Bimbingan Karir Disekolah. DEPDIKBUD DIKTI Poyek Pendidikan Tenaga Akademik: Jakarta.

Pengurus Besar ABKIN Indonesia. 2005. Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga. ABKIN.

Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka cipta: Jakarta.

Tikkysuwantikno. 2008. Kode Etik Profesi Konselor Indonesia (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia). http://tikkysuwantikno.wordpress.com/2008/01/31/kode-etik-profesi-konselor-indonesia/.

KONFLIK

Posted: 7 Maret 2011 in Bimbingan dan Konseling

KONFLIK

By: Agus Ria Haniati

A. Pengertian Konflik

Soetandyo Wignjosoebroto mendefinisikan secara bebas dari arti harafiahnya itu, ‘konflik’ adalah ‘perbenturan’ antara dua pihak yang tengah berjumpa dan bersilang jalan pada suatu titik kejadian, yang berujung pada terjadinya benturan.  Konflik itu pada umumnya didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang timbul karena adanya niat-niat bersengaja antara pihak-pihak yang berkonflik itu. (www. Google. Com, Diunduh pada tanggal 27-03-2010)

Istilah konflik ini secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama, dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

Konflik adalah suatu bentuk hubungan interaksi seseorang dengan orang lain atau suatu kelompok dengan kelompok lain, dimana masing-masing pihak secara sadar, berkemauan, berpeluang dan berkemampuan saling melakukan tindakan untuk mempertentangkan suatu isu yang diangkat dan dipermasalahkan antara yang satu dengan yang lain berdasarkan alasan tertentu.

(http://humasdepagntb.blogspot.com/2008/08/pengertian-konflik.html, Diunduh pada tanggal 30-04-2010)

Suryanto (2010), menyimpulkan definisi konflik menurut beberapa ahli, bahwa konflik adalah suatu hasil persepsi individu ataupun kelompok yang masing-masing kelompok merasa berbeda dan perdebaan ini menyebabkan adanya pertentangan dalam ide ataupun kepentingan, sehingga perbedaan ini menyebabkan terhambatnya keinginan atau tujuan pihak individu atau kelompok lain.

(http://suryanto.blog.unair.ac.id/2010/02/02/mengenal-beberapa-definisi-konflik/, Diunduh pada tanggal 30-04-2010).

Alo Liliweri (2005:249) dalam Sugiyo (2006:74) mencoba merangkum beberapa definisi konflik dari berbagai sumber, sebagai berikut:

a.         Konflik sebagai bentuk pertengakaran alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok dikarenakan perbedaan sikap, kepercayaan, nilai atau kebutuhan.

b.         Konflik merupakan hubungan pertentangan antara dua pihak atau lebih yang merasa memiliki sasaran-sasaran tertentu namun diliputi pemikiran, perasaan, atau perbuatan yang tidak sejalan.

c.         Pertentangan atau pertikaian karena ada perbedaan dalam kebutuhan, nilai, motivasi  pelaku atau yang terlibat didalamnya.

d.        Suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negative mempengaruhi pihak lain, dengan melakukan kekerasan fisik yang mebuat orang lain terganggu.

Dari beberapa pengertian konflik di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian konflik adalah suatu perbenturan atau perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang antara sekurang-kurangnya dua kelompok atau antar individu yang menyebabkan adanya pertentangan dalam ide ataupun kepentingan, sehingga menjadikan terhambatnya keinginan atau tujuan pihak individu atau kelompok lain.

B. Macam-macam Konflik

Alo Liliweri dalam Sugiyo (2006:78-80) menuliskan beberapa jenis atau tipe konflik, diantaranya adalah :

1.         Konflik sederhana

Tipe ini masih dalam taraf emosi dan muncul dari perasaan perbedaan yang dimiliki individu, macamnya :

a.         Konflik personal versus diri sendiri, terjadi karena apa yang dipikirkan /diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan.

b.        Konflik personal versus personal, bersumber dari perbedaan karakteristik personal.

c.         Konflik personal versus mayarakat, bersumber perbedaan keyakinan kelompok/ masyarakat  atau perbedaan hokum.

2.         Konflik berdasarkan jenis peristiwa dan proses

Konflik dari segi jenis peristiwa memiliki beberapa tipe konflik, yaitu:

a.         Konflik biasa, terjadi hanya karena kesalahpahaman yang didorong oleh factor emosi.

b.        Konflik zero-zum (game), konflik yang hasilnya kemenangan disatu pihak dan kekalahan dipihak lain.

c.         Konflik merusak, mulai dari proses sampai hasilnya merusak relasi social

Berdasarkan segi proses, konflik dibedakan atas :

a.         Konflik yang sedang terjadi

b.        Konflik zero-zum, hasilnya win-win solution.

c.         Konflik produktif, konflik yang dapat diselesaiakan dan hasilnya akan mendorong meningkatnya relasi pihak-pihak yang terkait

d.        Konflik yang dapat dikelola, sifatnya dikelola bagi keuntungan kedua belah pihak.

3.         Konflik berdasarkan factor pendorong

a.         Konflik internal, sering disebut dengan konflik batin karena didorong oleh emosi yang dirasakan sendiri misalnya rasa tersingkirkan, perasaan tidak nyaman, marah, dsb.

b.        Konflik eksternal, terjadi antara dua orang yang mempunyai perasaan kurang senang satu sama lain.

c.         Konflik realistis, merupakan konflik yang nyata, berstruktur, modus operandnya diketahui sehingga dapat dipecahkan dengan negosiasi.

d.        Konflik tidak realistic, terjadi karena alas an yang tidak jelas, tidak nyata, sumber konflik tidak terstruktur. Biasanya terjadi ketika menghadapi pilihan  nilai dan sikap.

Bentuk atau tipe-tipe konflik :

1.         Kompetisi, Yaitu hubungan dan interaksi sosial yang mewujudkan persaingan antara seseorang atau sekelompok orang, atau sekelompok orang lain, dengan tujuan mengalahkannya.

2.         Sengketa, Yaitu hubungan dan interaksi sosial yang terwujud karena adanya seseorang atau sekelompok orang memperebutkan sumber daya yang terbatas dan berharga dari orang sekelompok orang lain.

3.         Balas dendam, Bila suatu sengketa berlarut-larut dan dalam perkembangan persengketaan tadi jatuh korban, maka sengketa dapat berubah menjadi balas dendam.

4.         Perang, Suatu interaksi atau hubungan sekelompok orang dengan sekelompok orang lain, dengan tujuan untuk saling memusnahkan dan menghancurkan. Perang biasanya terjadi karena adanya perbedaan mendasar dalam sistem ideologi dari masing-masing kelompok yang berperang. (http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL3d3dy5jb25mbGljdHJlY292ZXJ5Lm9yZy9iaW4vTEJILUhBTV9LYWxiYXItS2VrZXJhc2FuX0J1a2FuX1BlbnllbGVzYWlhbi5wZGY=, Diunduh pada tanggal 01-05-2010)

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :

1.         konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)).

2.         konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).

3.         konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).

4.         konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)

5.         konflik antar atau tidak antar agama

6.         konflik antar politik (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

C. Ciri-ciri konflik

Barge dalam Sugiyo, (2006:74-75) menyebutkan bahwa konflik memiliki beberapa unsur atau ciri-ciri, diantaranya yaitu:

1.         Melibatkan  dua pihak atau lebih yang berinteraksi.

2.         Ada tujuan yang menjadi sasaran konflik dan sekaligus sebagai sumber konflik.

3.         Ada perbedaan pikiran, perasaan, tindakan di antara pihak yang terlibat untuk mendapatkan atau mencapai tujuan / sasaran.

4.         Ada situasi konflik antara dua pihak yang bertentangan baik situasi antar pribadi, antarkelompok, dan antarorganisasi.

Selain itu, menurut Supriyo (2008:87) gejala-gejala terjadinya suatu konflik dapat diketahui melalui perilaku-perilaku antara lain sebagai berikut :

1.         Terjadi secara terus menerus, sehingga dapat dikatakan sebagai suatu kebiasaan.

2.         Ditandai dengan adanya perasaan jengkel, namun hanya berlalu begitu saja dan munculnya tidak menentu.

3.         Ada perasaan tidak cocok, terkadang marah tetapi emosinya cepat mereda.

4.         Pengelolaan diri yang kurang baik, mengingat bahwa setiap orang memiliki masalah yang sangat kompleks.

5.         Kelompok yang sedang bersaing tidak suka mencari fakta yang akurat tentang lawan saingannya, cenderung emosional.

6.         Terdapatnya sikap putus asa, sebagai akibat dari saling sindir menyindir karena strategi yang digunakan hanya untuk mempertahankan sikapnya sendiri.

7.         Individu tidak senang untuk ditemani (ingin menyendiri), lebih banyak berpikir atau merenung.

D. Factor Penyebab Konflik

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

1.         Penyebab terjadinya konflik dikelompokkan dalam dua kategori besar:
Karakteristik Individual

a.       Nilai sikap dan Kepercayaan (Values, Attitude, and Baliefs) atau Perasaan kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, untuk bertindak positif maupun negatif terhadap suatu kejadian, dapat dengan mudah menjadi sumber terjadinya konflik.

b.      Kebutuhan dan Kepribadian (Needs and Personality) Konflik muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antara kebutuhan dan kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada perseteruan antar pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang memiliki kebutuhan kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk tidak begitu suka bekerjasama dengan orang lain.

c.       Perbedaan Persepsi (Perseptual Differences) Persepsi dan penilaian dapat menjadi penyebab terjadinya konflik. Misalnya saja, jika kita menganggap seseorang sebagai ancaman, kita dapat berubah menjadi defensif terhadap orang tersebut.

2.         Faktor Situasi

a.       Kesempatan dan Kebutuhan Barinteraksi (Opportunity and Need to Interact). Kemungkinan terjadinya konflik akan sangat kecil jika orang-orang terpisah secara fisik dan jarang berinteraksi. Sejalan dengan meningkatnya assosiasi di antara pihak-pihak yang terlibat, semakin mengikat pula terjadinya konflik. Dalam bentuk interaksi yang aktif dan kompleks seperti pengambilan keputusan bersama (joint decision-making), potensi terjadinya koflik bahkan semakin meningkat.

b.      Ketergantungan satu pihak kepada Pihak lain (Dependency of One Party to Another). Dalam kasus seperti ini, jika satu pihak gagal melaksanakan tugasnya, pihak yang lain juga terkena akibatnya, sehingga konflik lebih sering muncul.

c.       Perbedaan Status (Status Differences) Apabila seseorang bertindak dalam cara-cara yang ”arogan” dengan statusnya, konflik dapat muncul. Sebagai contoh, dalam engambilan keputusan, pihak yang berada dalam level atas organisasi merasa tidak perlu meminta pendapat para anggota tim yang ada. (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-konflik-dan-definisinya-serta-faktor-penyebabnya/, Diunduh pada tanggal 30-04-2010)

 

Menurut Supriyo (2008: 88) factor penyebab timbulnya konflik adalah sebagai berikut:

1.         Kepentingan / interest, merupakan sesuatu yang memotivasi seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motivasi ini tidak hanya dari bagian keinginan pribadi seseorang, tetapi juga dari peran dan statusnya karena adanya kepentingan.

2.         Emosi, sering diwujudkan melalui perasaan yang menyertai sebagian besar interaksi manusia, antara lain : marah, benci, takut, cemas, bingung, dan penolakan.

3.         Nilai/value, nilai ini merupakan komponen konflik yang paling sulit dipecahkan, karena nilai merupakan sesuatu hal yang tidak bisa diraba dan dinyatakan secara nyata. Nilai berada pada kedalaman akar pemikiran dan perasaan tentang benar dan salah, baik dan buruk, yang pada umumnya mengarah pada sikap dan perilaku manusia.

Faktor yang mempengaruhi adanya konflik pada sesama manusia adalah:

1.         Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

2.         Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.

3.         Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

4.         Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

E. Akibat Dari Adanya Konflik

Menurut Sadli dalam Sugiyo (2007:78)  mengemukakan bahwa apabila seseorang dapat mengelola konflik sedemikian rupa maka akan memeberikan beberapa manfaat positif diantaranya adalah:

1.         Konflik dapat mebuat kita lebih sadar bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan dalam hubungan antar pribadi kita. Konflik meningkatkan kesadaran kita mengenai masalah yang ada, siapa saja yang terlibat dan cara pemecahannya.

2.         Konflik mendorong perubahan

3.         Konflik membangkitkan tenaga dan menambah motivasi untuk memecahkan masalah.

4.         Konflik membuat kehidupan lebih menarik

5.         Keputusan yang lebih baik umumnya dibuat setelah ada tanggapan-tanggapan dan perbedaan pendapat mengenai keputusan itu diantara orang-orang yang bertanggung jawab membuat –pertimbangan.

6.         Konflik yang dibuka dan diselesaikan itu mengurangi kejengkelan dalam berhubungan dengan orang lain sehari-hari.

7.         Konflik dapat menyebabkan kita memahami diri kita sendiri sebagai pribadi.

8.         Konflik bias menyenangkan apabila kita tidak menganggap terlalu serius

9.         Konflik dapat memperdalam diri dan memperkaya suatu hubungan serta memperkuat keyakinan masing-masing, bahwa hubungan tersebut cukup erat dan tangguh menghadapi tekanan.

Supriyo (2008: 88) menyebutkan dampak-dampak negative dari konflik diantaranya:

1.         mempertajam perbedaan

2.         penghamburan tenaga, biaya, dan waktu yang sia-sia

3.         menurunkan semangat beraktivitas

4.         memilah-milahkan kelompok dan anggota lainnya

5.         merusak kerjasama

6.         menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan

7.         mengurangi produktivitas/hasil kerja

8.         menimbulkan frustasi yang berat, jika belum terselesaiakan sehingga akan berdampak pada kesehatan mental individu.

Hasil dari adanya sebuah konflik adalah sebagai berikut :

1.          Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.

2.          Keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.

3.          Perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.

4.          Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.

5.          Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

F. Cara Mengatas Konflik

Cara penyelesaian konflik atau resolusi konflik yang kita pilih terkadang dapat menyelesaikan konflik dengan baik, namun terkadang justru membuat konflik semakin besar dan panjang. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari masing-masing model resolusi konflik tersebut. Individu diharapkan dapat secara fleksibel menggunakan setiap model resolusi konflik sesuai situasi dan tidak terpaku pada satu model resolusi konflik saja.
Ada lima model resolusi konflik dari Tubbs dan Moss dalam (http://consultationroom.blogspot.com/2009/08/bagaimanakah-cara-mengatasi-konflik.html) , yaitu :

1. Menghindar

Menghindari masalah adalah cara termudah menghadapi konflik. Cara-cara menghindar yang biasanya dilakukan oleh individu adalah dengan menyangkal adanya konflik, tidak memberikan respon, mengalihkan pembicaraan mengenai suatu masalah, menyepelekan diskusi mengenai penyebab suatu masalah atau berpura-pura menganggap konflik yang terjadi sebagai masalah kecil. Individu juga biasanya berusaha menunda-nunda pembahasan mengenai suatu masalah. Keuntungan dari menghindar adalah mencegah penggunaan kata-kata atau respon yang justru dapat meningkatkan konflik.

2. Kompetisi

Cara-cara kompetisi yang biasanya dilakukan adalah menyalahkan pihak lain atau mengajukan kritik (sarkastik, menyindir, menolak untuk disalahkan). Selain itu dapat juga membuat permintaan, tuntutan, atau memperdebatkan masalah. Keuntungan dari cara ini adalah dapat membuat pihak lain akhirnya bersedia merubah tindakannya ke arah yang diinginkan dan memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan secara terbuka.

3. Kompromi

Pada kompromi kedua pihak sama-sama mengorbankan atau memberikan sesuatu untuk pihak lain karena hanya itu satu-satunya cara yang dirasa adil. Resolusi konflik kompromi menjadi cara terbaik apabila tidak ada cara lain yang dapat menyelesaikan konflik secara lebih adil dan memuaskan.

4. Akomodasi

Pada akomodasi, seseorang menekan atau mengorbankan keinginannya sendiri demi menciptakan harmoni dengan pihak lain. Strategi ini biasanya efektif hanya untuk jangka pendek, karena cepat atau lambat keinginan atau kebutuhan yang ditahan tersebut akan muncul terutama saat pihak yang melakukan akomodasi merasa telah berkorban cukup banyak. Keuntungannya adalah hubungan menjadi terlihat baik-baik saja di luar untuk sementara waktu, namun tetap akan berkonflik juga pada akhirnya karena pengorbanan hanya dilakukan oleh salah satu pihak.

5. Kolaborasi

Dalam kolaborasi terdapat kepedulian yang tinggi dalam mencapai tujuan bersama dan menjaga hubungan tetap baik. Di dalamnya terdapat rasa menghargai dan menghormati satu sama lain serta komitmen untuk mencapai solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Kolaborasi dilakukan dengan saling mengungkapkan pikiran dan perasaan secara terbuka dalam iklim yang suportif dengan penuh empati dan rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah demi kepentingan bersama.

Sumber lain menyebutkan beberapa alternatif penyelesaian suatu  konflik, antara lain dengan:

1.         Negosiasi, sebagai salah satu upaya penyelesaian konflik para pihak tanpa melalui proses peradilan denagn tujuan mencapai kesepakatan bersama atas dasar kerjasama yang lebih harmonis dan kreatif melalui mekanisme yang terbuka dan kooperatif.

2.         Mediasi, upaya penyelesaian sengketa para pihak dengan kesepakatan bersama melalui mediator yang bersikap netral, dan tidak membuat keputusan atau kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator untuk terlaksananya dialog antar pihak dengan suasana keterbukaan, kejujuran, dan tukar pendapat untuk tercapainya mufakat.

3.         Konsiliasi, upaya membawa pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan permasalahan antara kedua belah pihak secara negosiasi.

Arbitrase, suatu proses yang mudah yang dipilih oleh para pihak secara sukarela karena ingin agar perkaranya diputus oleh juru pidah yang netral sesuai dengan pilihan dimana keputusan mereka berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. UU No. 30 tahun 1999 : cara penyelesaian satu perkara perdata diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. (pasal 1 angka 1). Selain itu perlu untuk dilakukan Penyadaran masyarakat melalui pendekatan budaya dan agama serta Sosialisasi nilai-nilai sosia) budaya antar etnis yang bertikai, dilakukan secara terus menerus. (http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL3d3dy5jb25mbGljdHJlY292ZXJ5Lm9yZy9iaW4vTEJILUhBTV9LYWxiYXItS2VrZXJhc2FuX0J1a2FuX1BlbnllbGVzYWlhbi5wZGY=, Diunduh pada tanggal 01-05-2010)

DAFTAR PUSTAKA

Soetandyo Wignjosoebroto. (Tanpa Tahun). www. Google. Com. Diunduh pada tanggal 27-03-2010.

Sugiyo. 2006. Psikologi Sosial. Semarang : UNNES. 2007. Komunikasi Antar Pribadi. Semarang : UPT Unnes Press.

Supriyo. 2008. Studi Kasus Bimbingan Konseling. Semarang: UPT Unnes Press

Suryanto. 2010. http://suryanto.blog.unair.ac.id/2010/02/02/mengenal-beberapa-definisi-konflik/. Diunduh pada tanggal 30-04-2010.

Tubb dan Moss. 2009.  (http://consultationroom.blogspot.com/2009/08/bagaimanakah-cara-mengatasi-konflik.html. Diunduh pada tanggal 01-05-2010.

http://humasdepagntb.blogspot.com/2008/08/pengertian-konflik.html. Diunduh pada tanggal 30-04-2010.

http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik. Diunduh pada tanggal 27-03-2010.

http://id.shvoong.com/social-sciences/1838186-makna-konflik/. Diunduh pada tanggal 27-03-2010.

http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL3d3dy5jb25mbGljdHJlY292ZXJ5Lm9yZy9iaW4vTEJILUhBTV9LYWxiYXItS2VrZXJhc2FuX0J1a2FuX1BlbnllbGVzYWlhbi5wZGY=. Diunduh pada tanggal 01-05-2010.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-konflik-dan-definisinya-serta-faktor-penyebabnya/. Diunduh pada tanggal 30-04-2010.

GANGGUAN KONSENTERASI

By: Agus Ria Haniati

A. Pengertian Kurangnya Konsenterasi / Gangguan Konsenterasi

Konsentrasi adalah kecakapan yang bisa diajarkan oleh para orang tua dan guru (obert Dilts & Jenifer Dilts). Konsentrasi juga mengandung pengertian memusatkan pikiran untuk melakukan sesuatu. (http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01b5/1000f7c1.dir/doc.pdf)

Supriyo (2008, 103) Konsentrasi adalah pemusatan perhatian, pikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Siswa yang tidak dapat konsentrasi dalam belajar berarti tidak dapat memusatkan pikirannya terhadap bahan pelajaran yang dipelajarinya. Konsentrasi dalam belajar akan meentukan keberhasilan belajar oleh sebab itu maka setiap pelajar perlu melatih konsentrasi dalam kegiatan sehari-hari.

Gangguan konsenterasi tergolong ke dalam salah satu jenis gangguan ADHD, singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau dalam bahasa Indonesia Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH), suatu kondisi yang juga dikenal sebagai Attention Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian). Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder / ADD) adalah suatu pemusatan perhatian yang buruk atau singkat dan sifat impulsif (mengikuti kata hati) yang tidak sesuai dengan usia anak. ADD terutama merupakan suatu masalah dalam pemusatan perhatian, konsentrasi dan ketekunan menjalankan tugas. Anak juga mungkin bersifat impulsif dan hiperaktif. Pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi.

(http://74.125.155.132/search?q=cache:PRnF_vm3PgwJ:www.minmalangsatu.net/detail-artikel 18/CARA_MENGATASI_GANGGUAN_KONSENTRASI_BELAJAR.html+cara+mengatasi+gangguan+konsenterasi+belajar&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id).

Dari pengertian yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa, kurangnya konsenterasi dalam belajar adalah ketidak mampuannya seseorang untuk dapat memusatkan perhatian atau pikirannya dengan baik terhadap mata pelajaran yang sedang dipelajarinya, pola perhatian anak terhadap pelajaran terbagi kepada hal-hal lainnya diluar apa yang sedang dipelajarinya.

B. Ciri-ciri Gangguan Konsenterasi Belajar

Ciri-ciri yang sangat mudah dikenali untuk anak dengan gangguan pemusatan perhatian adalah tidak mampu menyaring rangsang yang datangnya dari luar.

Irwan Prayitno menyebutkan bahwa gangguan konsentrasi berhubungan dengan kemampuan anak untuk memperhatikan dan berkonsentrasi,kemampuan yang berkembang seiring dengan perkembangan anak. Anak yang sangat terganggu konsentrasinya mengalami kesulitan untuk memfokuskan konsentrasinya,perhatiannya dan menyelesaikan tugas secara terus menerus. Mereka sering lupa instruksi-instruksi, kehilangan barang-barang dan tidak mendengarkan orang tua dan gurunya (http://74.125.153.132/search?q=cache:pBwpHfbvv4kJ:kangheru.multiply.com/journal/item/17+konsentrasi+belajar&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a).

Gangguan konsentrasi berhubungan dengan kemampuan anak untuk memperhatikan dan berkonsentrasi, kemampuan yang berkembang seiring dengan perkembangan anak. Anak yang sangat terganggu konsentrasinya mengalami kesulitan untuk memfokuskan konsentrasinya, perhatiannya dan menyelesaikan tugas secara terus menerus. Mereka sering lupa instruksi-instruksi, kehilangan barang-barang dan tidak mendengarkan orang tua dan gurunya. Mereka mungkin melamun di kelas dan kelihatan gelisah. (http://74.125.155.132/search?q=cache:PRnF_vm3PgwJ:www.minmalangsatu.net/detail-artikel-18/CARA_MENGATASI_GANGGUAN_KONSENTRASI_BELAJAR.html+cara+mengatasi+gangguan+konsenterasi+belajar&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id).

 

C. Gejala Kurang Konsentrasi Belajar

Gejala-gejala yang nampak pada anak yang mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi belajar dikemukakn oleh Supriyo (2008: 104), yaitu sebagai berikut :

1.      Pada umumnya anak merasa betah berjam-jam untuk kongkow-kongkow, nonton dsb. (di luar kegiatan belajar) tetapi kalau belajar sebentar sudah merasa tidak tahan

2.      Mudah kena rangsangan lingkungannya (seperti: suara radio, TV, gangguan adik/kakak)

3.      Kadangkala selalu mondar-mandir kesana kemari untuk mencari perelngkapan belajar

4.      Selesai belajar tidak tahu apa yang baru saja dipelajari.

 

D. Factor Yang Mempengaruhi Kurangnya Konsentrasi

Menurut Roberts Dilts dan Jennifer Dilt (http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01b5/1000f7c1.dir/doc.pdf) sulitnya konsentrasi dipengaruhi karena mempunyai terlalu banyak gangguan atau kekawatiran, tidak mengetahui bagaimana melakukan segala sesuatu yang harus kita lakukan, ingin melakukan sesuatu yang lain kelelahan merasa tidak enak badan. Selain tersebut tadi sulitnya berkonsentrasi dipengaruhi oleh canggihnya teknologi jaman sekarang seperti komputer internet dan mainan yang dapat mengganggu konsentrasi anak seperti Playstation, video game.

Seorang anak bisa berkonsentrasi dengan baik atau tidak, dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal:

1.      Faktor internal adalah faktor yang muncul dalam diri anak itu. Sedangkan faktor eksternal adalah pengaruh yang berasal dari luar individu.

2.      Faktor internal misalnya ketidaksiapan mereka dalam menerima pelajaran, kondisi fisik, kondisi psikologis, modalitas belajar, sedangkan faktor eksternal misalnya adanya suara-suara berisik dari TV, radio, atau suara-suara yang mengganggu lainnya. (http://www.sscbandung.net)

Supriyo (2008; 104) menyebutkan bahwa sebab-sebab latar belakang anak tidak dapat konsentrai dalam belajar antara lain yaitu sebagai berikut :

1.      Anak tidak mmempunyai tempat tersendiri

2.      Anak mudah terpengaruh oleh situasi sekitar

3.      Dalam meja banyak gambar/ foto kekasihnya, kaca dsb. Sehingg adalam belajar mudah terganggu

4.      Anak tidak  merasa senang/ tidak berminat terhadap pelajaran yang dihadapi

5.      Kemungkinan lain badan dalam keadaan lelah/ sakit

6.      Baru mengalami stress/ tekanan jiwa karena pacarnya yang paling disayang meninggalkan dia, atau kehilangan salah satu anggota keluarganya.

 

E. Cara Mengatasi Kurangnya Konsenterasi Belajar

Di bawah ini ada beberapa tips untuk dapat berkonsentrasi dalam kegiatan belajar, diantaranya adalah:

1.         Jangan biarkan gangguan itu datang Biasanya ketika kita belajar, pasti akan datang yang namanya gangguan. Gangguan ini bentuknya bisa macam-macam. Mulai dari televisi, telepon hingga nyamuk yang menyerang. Kalau sudah diganggu, biasanya konsentrasi belajar jadi buyar. Untuk menghindari itu semua, kondisikan situasi di
sekitar kamu supaya gangguan-gangguan tadi bisa dihindari. Misalnya, matikan ponsel.

2.         Siapkan catatan kecil Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah catatan. Selalu siapkan beberapa lembar kertas berukuran kecil. Catat hal-hal yang penting untuk diingat.

3.         Buat target yang hendak dicapai Belajarlah dengan target. Tetapkanlah berapa jumlah halaman yang akan dibaca. Juga tetapkan berapa lama kamu akan belajar saat itu.

4.         Siapkan penghargaan untuk dirimu Setelah serius belajar, kamu butuh menyenangkan diri sendiri. Tetapkanlah satu imbalan untuk diri kamu sendiri. Misalnya, kalau kamu bisa mencapai target belajar kamu hari itu, kamu akan makan ice cream rasa coklat.

5.         Belajar tidak akan membuat temanmu hilang. Jangan pernah merasa kamu akan kehilangan teman-temanmu karena kamu serius belajar. Teman-teman kamu nggak bakalan ninggalin kamu. Kalau mereka ninggalin kamu, berarti mereka bukan teman yang baik.

(http://74.125.153.132/search?q=cache:RgVJVOrLb-MJ:kumpulantips.blogspot.com/2006/12/konsentrasi-belajar-yuk.html+konsentrasi+belajar&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a)

Ade Candra, 2006, menyebutkan bahwa kehilangan konsentrasi dalam taraf ringan, mungkin dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini:

1.      Berusaha untuk dapat fokus

2.      Senantiasa mencatat

3.      Berusaha untuk tetap menjaga alur pikiran

4.      Catat gangguan yang biasanya membuat kehilangan konsentrasi dan kerjakan sesuatu yang dapat mengurangi gangguan tersebut.

5.      Manjakan diri sendiri

6.      Hidup teratur dan istirahat cukup

7.      Bekerja cepat

(http://adecandra.blogspot.com/2006/04/bagaimana-mengatasi-gangguan.html).

DAFTAR PUSTAKA

Candra, Ade. 2006. Gangguan Konsenterasi. http://adecandra.blogspot.com/2006/04/bagaimana-mengatasi-gangguan.html

 

Supriyo. 2008. Studi Kasus Bimbingan dan Konseling. Semarang: CV. Nieuw Setapak.

 

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01b5/1000f7c1.dir/doc.pdf

 

http://www.sscbandung.net

 

http://74.125.153.132/search?q=cache:pBwpHfbvv4kJ:kangheru.multiply.com/journal/item/17+konsentrasi+belajar&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

 

http://viewietaga.blog.friendster.com/tag/pengertian/

 

http://74.125.153.132/search?q=cache:RgVJVOrLb-MJ:kumpulantips.blogspot.com/2006/12/konsentrasi-belajar-yuk.html+konsentrasi+belajar&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

 

http://74.125.155.132/search?q=cache:PRnF_vm3PgwJ:www.minmalangsatu.net/detail-artikel-18/CARA_MENGATASI_GANGGUAN_KONSENTRASI_BELAJAR.html+cara+mengatasi+gangguan+konsenterasi+belajar&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

By: Agus Ria. H

A. PENGERTIAN

Berdasarkan pendapat dari para ahli mengidentifikasikan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

Hariansyah (2007), dalam Supriyo (2008: 32) menyatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respon terhadap suatu kondisi tertentu.

Swallow (2007) dalam Supriyo (2008:32) mendefinisikan sifat pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa takut atau cemas karena penialain tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

Supriyo (2008: 32) menyebutkan bahwa pemalu adalah rasa tidak nyaman, cemas atau tacit di dalam setiap kegiatan sosial khususnya karena mereka tidak memahami lingkungannya.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, terminologi malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat.

 

B. CIRI-CIRI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:

1.      Menghindari kontak mata;

2.      Tidak mau melakukan apa-apa;

3.      Terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya);

4.      Tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti “ya”, “tidak”, “tidak tahu”, “halo”;

5.      Tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;

6.      Tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;

7.      Mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu;

8.      Menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah);

9.      Mengalami psikosomatis;

10.  Merasa tidak ada yang menyukainya.

 

C. SEBAB-SEBAB atau LATAR BELAKANG DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Supriyo, 2008 juga menyebutkan bahwa factor penyebab perilaku malu yang paling utama dikarenakan kurangnya kecerdasan sosial yang dimiliki pemalu. Umumnya meraka tidak tahu seni memperkenalkan dirinya dan memulai suatu percakapan, kurang memiliki keterampilan mengetengahkan bahasa tubuh dan tidak tegas. Dengan kata lain sang pemalu umumnya tidak pernah mengetahui bagaimana seharusnya berinteraksi ddengan orang lain secara efektif. Selain kecerdasan sosia, penyebab rasa malu antara lain adalah unsure rendahnya harga diri, pengalaman buruk masa lalu, dan pengalaman tak menyenangkan, kondisi fisik yang kurang sempurna, serta lingkungan keluarga yang kurang nyaman dalam berinteraksi.

 

D. BAHAYA YANG TIMBUL DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang.

Rasa malu sangat berpengaruh cukup besar dalam pergaulan kita dengan orang lain dan perilaku kita didalam masyarakat. Dalam Centi (1993) disebutkan bahwa orang-orang yang tidak aman dengan diri sendiri menjadi orang-orang sebagai berikut:

1.      Mereka tidak memenuhi, tepatnya, mencapai kepenuhan dalam pergaulan, sebab rasa takut mereka menahan dan menghambat langkah dalam pergaulan mereka dengan orang lain.

2.      Mereka mendekatyi orang-orang dengan terlalu hati-hati, mereka berpendapat bahwa orang lain tidak akan berminat atau menghargai mereka, mendekati orang lain dengan pelan, ragu-ragu, cemas sambil menduga bagaimana orang lain akan menerima mereka, dan bertindak sesuai dengan penangkapannya.

3.      Mereka terlalu sadar diri dan cemas tentang bagaimana orang lain melihat mereka.

4.      Mereka berbuat dengan sengaja agar diterima dan disuakai. Mereka mempersiapkan diri untuk ditolak orang, karena terlalu sopan dan kaku perilaku orang pemalu, jadinya terpecah antara usaha untuk disukai dan menjaga agar jangan tidak disukai orang.

5.      Mereka terlalu memandang unsur-unsur negative yang dikira ada pada diri mereka.

Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.

Dalam supriyo, 2008 disebutkan beberapa dampak yang muncul akibat perilaku malu, yaitu terhambatnya perklembangan individu yang mempunyai perilaku malu, semakin tidak terasahnya kemampuan sosial individu, tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang informasi dan pergaulan, kurang pengalaman, menimbulkan kesulitan belajar apabila terjadi pada anak usia sekolah.

 

E. CARA MENGATASI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Ada beberapa hal yang dap[at dilakukan para orang tua untuk mengatasi rasa malunya, yaitu diantaranya dengan cara sebagai berikut:

  1. Jangan mengolok-olok atau memperbincangkan sifat pemalu anak. Contohnya dengan mengatakan “kamu sih pemalu” atau “iya lho Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali, saya sampai repot dibuatnya”, dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak bisa merasa tak diterima sebagaimana adanya.
  2. Pahami kesukaan dan potensi anak, lalu doronglah ia untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan, ketika berada di toko, anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia mencari mobil yang diinginkan.
  3. Secara rutin ajak anak berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
  4. Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 di atas, anak belum tentu berani bicara pada pelayan toko sekalipun didampingi. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di toko dan anak pura-pura bicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada contoh-contoh yang lain.
  5. Orangtua hrus jadi contoh bagi anak. Misalnya, jangan hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga jadilah model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
  6. Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap mendampingi dan tidak langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Centi, Paul J. 1993. “Mengapa Rendah Diri?”. Yogyakarta: Kanisius.

Supriyo. 2008. Studi Kasus bimbingan Konseling. Semarang: CV. Nieuw Setapak.

http://74.125.153.132/search?q=cache:HlBaUo_jDHkJ:www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/10/13/kel1.html+ciri-ciri+PERILAKU+PEMALU&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://74.125.153.132/search?q=cache:Fed47N4GFFEJ:www.pasamankab.go.id/index.php/artikel/47-psikolog/189-anak-pemalu.html+DAMPAK+DARI+PERILAKU+PEMALU&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg04585.html

Motivasi Belajar

Posted: 7 Maret 2011 in Bimbingan dan Konseling

SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

By: Agus Ria. H

A. PENGERTIAN

Berdasarkan pendapat dari para ahli mengidentifikasikan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

Hariansyah (2007), dalam Supriyo (2008: 32) menyatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respon terhadap suatu kondisi tertentu.

Swallow (2007) dalam Supriyo (2008:32) mendefinisikan sifat pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa takut atau cemas karena penialain tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

Supriyo (2008: 32) menyebutkan bahwa pemalu adalah rasa tidak nyaman, cemas atau tacit di dalam setiap kegiatan sosial khususnya karena mereka tidak memahami lingkungannya.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, terminologi malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat.

 

B. CIRI-CIRI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:

1.      Menghindari kontak mata;

2.      Tidak mau melakukan apa-apa;

3.      Terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya);

4.      Tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti “ya”, “tidak”, “tidak tahu”, “halo”;

5.      Tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;

6.      Tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;

7.      Mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu;

8.      Menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah);

9.      Mengalami psikosomatis;

10.  Merasa tidak ada yang menyukainya.

 

C. SEBAB-SEBAB atau LATAR BELAKANG DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Supriyo, 2008 juga menyebutkan bahwa factor penyebab perilaku malu yang paling utama dikarenakan kurangnya kecerdasan sosial yang dimiliki pemalu. Umumnya meraka tidak tahu seni memperkenalkan dirinya dan memulai suatu percakapan, kurang memiliki keterampilan mengetengahkan bahasa tubuh dan tidak tegas. Dengan kata lain sang pemalu umumnya tidak pernah mengetahui bagaimana seharusnya berinteraksi ddengan orang lain secara efektif. Selain kecerdasan sosia, penyebab rasa malu antara lain adalah unsure rendahnya harga diri, pengalaman buruk masa lalu, dan pengalaman tak menyenangkan, kondisi fisik yang kurang sempurna, serta lingkungan keluarga yang kurang nyaman dalam berinteraksi.

 

D. BAHAYA YANG TIMBUL DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang.

Rasa malu sangat berpengaruh cukup besar dalam pergaulan kita dengan orang lain dan perilaku kita didalam masyarakat. Dalam Centi (1993) disebutkan bahwa orang-orang yang tidak aman dengan diri sendiri menjadi orang-orang sebagai berikut:

1.      Mereka tidak memenuhi, tepatnya, mencapai kepenuhan dalam pergaulan, sebab rasa takut mereka menahan dan menghambat langkah dalam pergaulan mereka dengan orang lain.

2.      Mereka mendekatyi orang-orang dengan terlalu hati-hati, mereka berpendapat bahwa orang lain tidak akan berminat atau menghargai mereka, mendekati orang lain dengan pelan, ragu-ragu, cemas sambil menduga bagaimana orang lain akan menerima mereka, dan bertindak sesuai dengan penangkapannya.

3.      Mereka terlalu sadar diri dan cemas tentang bagaimana orang lain melihat mereka.

4.      Mereka berbuat dengan sengaja agar diterima dan disuakai. Mereka mempersiapkan diri untuk ditolak orang, karena terlalu sopan dan kaku perilaku orang pemalu, jadinya terpecah antara usaha untuk disukai dan menjaga agar jangan tidak disukai orang.

5.      Mereka terlalu memandang unsur-unsur negative yang dikira ada pada diri mereka.

Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.

Dalam supriyo, 2008 disebutkan beberapa dampak yang muncul akibat perilaku malu, yaitu terhambatnya perklembangan individu yang mempunyai perilaku malu, semakin tidak terasahnya kemampuan sosial individu, tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang informasi dan pergaulan, kurang pengalaman, menimbulkan kesulitan belajar apabila terjadi pada anak usia sekolah.

 

E. CARA MENGATASI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Ada beberapa hal yang dap[at dilakukan para orang tua untuk mengatasi rasa malunya, yaitu diantaranya dengan cara sebagai berikut:

  1. Jangan mengolok-olok atau memperbincangkan sifat pemalu anak. Contohnya dengan mengatakan “kamu sih pemalu” atau “iya lho Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali, saya sampai repot dibuatnya”, dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak bisa merasa tak diterima sebagaimana adanya.
  2. Pahami kesukaan dan potensi anak, lalu doronglah ia untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan, ketika berada di toko, anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia mencari mobil yang diinginkan.
  3. Secara rutin ajak anak berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
  4. Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 di atas, anak belum tentu berani bicara pada pelayan toko sekalipun didampingi. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di toko dan anak pura-pura bicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada contoh-contoh yang lain.
  5. Orangtua hrus jadi contoh bagi anak. Misalnya, jangan hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga jadilah model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
  6. Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap mendampingi dan tidak langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Centi, Paul J. 1993. “Mengapa Rendah Diri?”. Yogyakarta: Kanisius.

Supriyo. 2008. Studi Kasus bimbingan Konseling. Semarang: CV. Nieuw Setapak.

http://74.125.153.132/search?q=cache:HlBaUo_jDHkJ:www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/10/13/kel1.html+ciri-ciri+PERILAKU+PEMALU&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://74.125.153.132/search?q=cache:Fed47N4GFFEJ:www.pasamankab.go.id/index.php/artikel/47-psikolog/189-anak-pemalu.html+DAMPAK+DARI+PERILAKU+PEMALU&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg04585.html

PERILAKU KASAR DAN MELAWAN (AGRESIF)

By: Agus Ria Haniati


A. Pengertian

Perilaku agresif lebih menekan pada suatu yang bertujuan untuk menyakiti orang lain dan secara sosial tidak dapat diterima. Ada dua utama agresi yang saling bertentangan yakni untuk membela diri dan di pihak lain adalah untuk meraih keuntungan dengan cara membuat lawan tidak berdaya (Rita, 2005 : 105).

Istilah kekerasan (violence) dan agresif (agresion) memiliki makna yang hampir sama, sehingga sering kali dipertukarkan. Perilaku agresif selalu dipersepsi sebagai kekerasan terhadap pihak yang dikenai perilaku tersebut. Pada dasarnya perilaku agresif pada manusia adalah tindakan yang bersifat kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Menurut Sadorki dan Sadock (2003) bahaya atau pencederaan yang diakibatkan oleh perilaku agresif bisa berupa pencederaan fisikal, namun pula bisa berupa pencederaan non fisikal atau semisal yang terjadi akibat agresi verbal (Anantasari, 2006 : 63).

Dalam psikologi anak atau jenis lainnya psikologi, agresi adalah perilaku yang didefinisikan sebagai ekspresi kemarahan dan perilaku defensif yang ditimbulkan pada anggota spesies yang sama. Terdapat beberapa alasan untuk agresi ingin menyakiti atau merugikan orang lain atau menunjukkan dominasi.

Dari beberapa definisi agresif di atas dapat disimpulkan bahwa agresif adalah suatu ekspresi kemarahan dan perilaku defensive yang ditimbulkan dengan tindakan kekerasan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain dan tidak dapat diterima secara social.

 

B. Ciri-Ciri Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Anak-anak yang sering mengalami perilaku yang menyimpang atau perilaku agresifnya biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menyakiti/merusak diri sendiri, orang lain.

Perilaku agresif termasuk yang dilakukan anak hamper pasti menimbulkan adanya bahaya berupa kesakitan yang dapat dialami oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain.

  1. Tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasarannya.

Perilaku agresif, terutama agresi yang keluar pada umumnya juga memiliki sebuah ciri yaitu tidak diinginkan oleh organisme yang menjadi sasarannya.

  1. Seringkali merupakan perilaku yang melanggar norma social.

Perilaku agresif pada umumnya selalu dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma sosial. Dari berbagai ciri-ciri diatas,guru hendaklah memperhatikan perkembangan anak didiknya.Pemahaman lebih dini rupanya menjadi penting sehingga dapat dilakukan berbagai hal bijaksana yang dapat mengantisipasi perilaku agresif pada anak tersebut (Anantasari, 2006: 90)

 

C. Sebab-sebab atau Latar Belakang Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Dalam Surya (2004: 45 –  48) disebutkan bahwa factor pencetus anak suka berperilaku suka agresif, antara lain:

1.      Anak merasa kurang diperhatikan atau merasa terabaika.

2.      Anak selalu merasa tertekan, karena selalu mendapat perlakuan kasar.

3.      Anak kurang merasa dihargai atau disepelekan.

4.      Tumbuhnya rasa iri hati anak.

5.      Sikap agresif merupakan cara berkomunikasi anak.

6.      Pengaruh kekurangharmonisan hubungan dalam keluarga.

7.      Pengaruh tontonan aksi-aksi kekerasan dari media TV.

8.      Pengaruh pergaulan yang buruk

Sumber lain menyebutkan ada dua macam sebab yang mendasari tingkah laku agresif pada anak, yaitu:

1.      Pertama, tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau melawan orang lain. Macam tingkah laku agresif ini biasanya ditandai dengan kemarahan atau keinginan untuk menyakiti orang lain.

2.      Kedua, tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap mempertahankan diri terhadap serangan dari luar.

Penyebab perilaku agresif digolongkan dalam beberapa factor yakni :

  1. Faktor Biologis

a.       Sistem Otak

Para peneliti yang menyelidiki kaitan antara cedera kepala dan perilaku kekerasan mengidentifikasikan betapa kombinasi pencederaan fisikal yang pernah dialami. Cedera kepala mungkinikut melandasi perilaku agresif. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau memperlambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang pernah mengalami kesenangan, kegembiraan cenderung untuk melakukan kekejaman atau penghancuran. Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurangnya rangsangan sewaktu bayi.

b.      Gen

Merupakan faktor yang tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi.

c.       Kimia Darah

Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditemukan pada faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresif (Rita, 2005 : 107).

  1. Faktor Lingkungan

a.       Kemiskinan

Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresif mereka secara alami mengalami perbuatan (Byod Mc Cendles dalam Davidoff). Hal ini dapat dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari apalagi di kota-kota besar, dalam antrian lampu merah, perempatan jalan. Model agresi modeling sering kali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dan pertahanan hidup.

b.      Anonimitas

Terlalu banyak rangsangan indra kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal artinya antara satu orang dengan orang yang lain tidak saling mengenal. Setiap individu menjadi anonym tidak mempunyai identitas. Bila seorang mempunyai anonim ia cenderung berperilaku menyendiri.

c.       Suhu Udara Panas

Pengaruh polusi udara, kebisingan dan kesesakan karena kondisi manusia yang terlalu berjejal. Kondisi-kondisi itu bisa melandasi perilaku agresif (Rita, 2005 : 108)

  1. Faktor Psikologis

a.       Perilaku Naluriah

Menurut Sigmund Freud, dalam diri manusia ada naluri kematian yang ia sebut pula thanatos yaitu energi yang tertuju untuk perusakan. Agresi terutama berakar dalam naluri kematian yang diarahkan bukan ke dalam diri sendiri melainkan diarahkan pada orang lain.

b.      Perilaku Yang Dipelajari.

Menurut Albert Bandura perilaku agresif berakar dalam respons-respons yang dipelajari manusia lewat pengalamanpengalaman di masa lampau (Anantasari, 2006 : 64)

  1. Faktor Sosial

a.       Reaksi Emosi Terhadap Frustasi

Tidak diragukan lagi pengaruh frustasi dalam peryakan perilaku agresif. John Dollad berpendapat frustasi bias mengakari agresif. Kendati demikian tidak setiap anak yang mengalami frustasi seta merupakan agresi. Agresivitas muncul akibat banyaknya larangan yang diperbuat guru dan orang tua. (Rosmala, 2005 : 112)

 

b.      Provokasi Langsung

Pencederaan fiskal dan ejekan verbal dari orang-orang lain bisa memicu perilaku agresif. Perilaku ini biasanya dilakukan karena anak kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekelilingnya dan anak akan terus akan mencari perhatian. Orang tua anak yang agresif biasanya mempunyai gejolak emosi yang buruk dan situasi emosional perkawinan sebagai reaksi dari penolakan. Akibatnya anak melakukan agresi sebagai reaksi dari penolakan oleh orang tua.

c.       Peniruan (Modeling)

Semua perilaku tidak terkecuali agresif lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Peniruan tidak dilakukan pada semua orang tetapi terhadap figur tertentu seperti ayah, ibu, kakak, atau teman bermainnya yang memiliki perilaku agresif. Orang tua sering bertengkar menyebabkan anak juga akan sering bertengkar. Terdapat kaitan antara agresi dan paparan tontonan kekerasan lewat televisi. Semakin banyak anak menonton kekerasan lewat televisi, maka tingkata agresi anak terhadap orang lain bisa meningkat pula. Ternyata pengaruh tontonan kekerasan lewat televisi bersifat komulatif artinya makin panjang paparan tontonan kekerasan semakin meningkat pula perilaku agresinya. Aletha Stein (Davidoff, 1991) mengemukakan bahwa anak yang memiliki kadar agresi di atas normal akan lebih cenderung berlaku agresif. Maka setelah menyaksikan adegan kekerasan ia akan bertindak seperti terhadap orang lain. (Anantasari, 2006 : 65)

  1. Faktor Situasional

Termasuk dalam faktor ini antara lai adalah rasa sakit, terluka yang dialami anak. Perasaan anak yang terluka entah karena rasa kesal, marah, kecewa, sedih dan ia tidak tahu bagaimana cara semestinya untuk mengungkapkan perasaan-perasaan itu, maka ia melampiaskan dengan perilaku agresif. (Anantasari, 2006 : 66)

 

D. Bahaya yang Timbul Dari Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Agresivitas memiliki dampak sosial yang luas. Agresivitas seorang anak bisa berpengaruh terhadap situasi sosial dilingkungannya. Agresivitas juga bersifat langsung dan sangat berpengaruh terhadap diri anak. Apabila perilaku agresif tidak segera ditangani dan tidak mendapat perhatian dari orang tua maupun pendidiknya, maka akan berpeluang besar menjadi yang persistent atau menetap. Di lingkungan sekolah anak agresif cendedrung ditakuti dan dijauhi teman-temannya dan ini dapat menimbulkan masalah baru karena anak terisolir dari lingkungan disekelilingnya. Perilaku agresif yang dibiarkan begitu saja, pada saat remaja nanti akan menjadi juvenite deliquence yakni perilaku khas kenakalan remaja. Dengan deemikian, perilaku agresif dari sejak anak berusia dini berpengaruh pada perkembangan-perkembangan anak selanjutnya.

 

E. Cara Mengatasi Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

Dalam Surya (2004: 49 – 51) ada beberapa langkah pendekatan yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi perilaku anak suka agresif, antara lain:

1.      Jika melihat anak secara langsung bersikap agresif terhadap temannya, berusahalah untuk mencegahnya dengan tanpa menyinggung perasaan anak.

2.      Kita harus memperlakukan anak dengan sabar, kita tidak boleh bersikap agresif menghadapi anak yang suka agresif.

3.      Dengarkan suara hati anak.

4.      Ajarkan pada anak cara bergaul dengan baik dan menyenangkan.

5.      Kita bisa mendampingi dan mengawasi anak saat bermain bersama teman atau saudaranya.

6.      Kita bisa membatasi jumlah teman bermain anak.

7.      Ciptakan suasana kebersamaan dalam keluarga.

8.      Damping anak ketika nonton TV

Dalam (Sobur, 1987) dijelaskan bahwa untuk menanggapi sikap agresif anak-anak, kita perlu melacak dua macam jalan keluarnya. Pertama, bagaimana mengurangi sikap agresifnya pada saat ini. Sedangkan jalan keluar yang lebih berjangka panjang adalah mencegah timbulnya sikap agresif dimasa yang akan datang. Apapun yang dipilih untuk menyalurkan dorongan agresifnya ini, tetap berarti bahwa dorongan agresif itu sendiri harus disalurkan dengan sebaik-baiknya. Perbuatan orangtua untuk setiap kali menyuruh diam anak-anak yang sedang bertengkar, atau menghukum anak setiap kali habis berkelahi dengan temannya adalah kurang bijaksana.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anantasari. 2006. Menyikapi Perilaku Agresif Anak, Yogyakarta : KANISUS

Dewi, Rosmala. 2005. Berbagai Masalah Anak TK, Jakarta: Depdiknas

Ezzaty, Eka Rita. 2005. Mengenali Permasalahan Perkembangan Anak Usia TK. Jakarta ; Depdiknas

Sobur, Alex. 1987. Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Surya, Hendra. 2004. Kiat Mengatasi Perilaku Penyimpangan Perilaku Anak (Usia 3 – 12 Tahun). Jakarta: PT Elex media Komputindo.

http://www.scumdoctor.com/Indonesian/parenting/child-psychology/Child-Psychology-And-Aggresive-Behaviour.html

 

KODE ETIK PROFESI KONSELOR INDONESIA

(ASOSIASI BIMBINGAN KONSELING INDONESIA)

BAB I

PENDAHULUAN

A.       PENGERTIAN

Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia Merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku  profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap profesional Bimbingan dan Konseling Indonesia 

B.       DASAR KODE ETIK PROFESI BK

Dasar Kode Etik Profesi bimbingan dan konseling adalah (a) pancasila, mengingat bahawa profesi bimbingan dan konseling merupakan usaha pelayanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga indonesia yang bertanggung jawab, dan (b) tuntutan profesi, mengacu kepada kebutuhan dan kebahagiaan  klien sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

BAB II

KUALIFIKASI  DAN KEGIATAN  PROFESIONAL KONSELOR

A.       KUALIFIKASI

Konselor harus memiliki (1) nilai, sikap. Ketrampilan, pengetahuan dan wawasan dalam bidang profesi bimbingan dan konseli, (2) Memperoleh pengakuan atas kemampuan dan kewenangan sebagai konselor.

1.        Nilai, sikap, ketrampilan, pengetahuan dan wawasan yang harus dimiliki konselor

  1. Konselor wajib terus-menerus berusaha mengembangkan dan menguasai dirinya
  2. Konselor wajib memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercaya, jujur, tertib dan hormat
  3. Konselor wajib memeiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan seprofesi yang berhubungan dgn pelaksanaan ketentuan tingkah laku profesional
  4. Konselor wajib mengusahakan mutu kerja yang tinggi dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi termasuk material, finansial dan popularitas
  5. Konselor wajib trampil dlm menggunakan tekhnik dan prosedur khusus dgn wawasan luas dan kaidah-kaidah ilmiah

2.        Pengakuan Kewenangan

  1. Pengakuan Keahlian
  2. Kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yg diberikan kepadanya.

 B.       INFORMASI, TESTING DAN RISET

1.      Penyimpanan dan penggunaan Informasi

  1.  
    1.  
      1. Catatan tentang diri klien spt; wawancara, testing, surat-menyurat, rekaman dan data lain merupakan informasi yg bersifat rahasia dan hanya boleh dipergunakan untuk kepentingan klien.
      2. Penggunaan data/informasi dimungkinkan untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor sepanjang identitas klien dirahasiakan.
      3. Penyampaian informasi ttg klien kepada keluarganya atau anggota profesi lain membutuhkan persetujuan klien
      4. Penggunaan informasi ttg Klien dalam rangka konsultasi dgn anggota profesi yang sama atau yang lain dpt dibenarkan asalkan kepentingan klien dan tidak merugikan klien
      5. Keterangan mengenai informasi profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya. 

2.      Testing

  1.  
    1.  
      1.  
        1. Suatu jenis tes hanya diberikan oleh konselor yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.
        2. Testing dilakukan bila diperlukan data yang lebih luas ttg sifat, atau ciri kepribadian subyek untuk kepentingan pelayanan
        3. Konselor wajib mmebrikan orientasi yg tepat pada klien dan orang tua mengenai alasan digunakannya tes, arti dan kegunaannya.
        4. Penggunaan satu jenis tes wajib mengikuti pedoman atau petunjuk yg berlaku bg tes tsb.
        5. Data hasil testing wajib diintegrasikan dgn informasi lain baik dari klien maupun sumber lain,
        6. Hasil testing hanya dapat diberitahukan pada pihak lain sejauh ada hubungannya dgn usaha bantuan kepada klien

3.       Riset

  1.  
    1. Dalam mempergunakan riset thdp manusia, wajib dihindari hal yang merugikan subyek
    2. Dalam melaporkan hasil riset, identitas klien sebagai subyek wajib dijaga kerahasiannya. 

C.       PROSES PELAYANAN

1.      Hubungan dalam Pemberian Pelayanan

  1.  
    1.  
      1. Konselor wajib menangani klien selama ada kesempatan dalam hubungan antara klien degan konselor
      2. Klien sepenuhnya berhak mengakhiri hubungan dengan konselor, meskipun proses konseling belum mencapai hasil konkrit
      3. Sebaliknya Konselor tidak akan melanjutkan hubungan bila klien tidak memperoleh manfaat dari hubungan tsb.  

2.       Hubungan dengan Klien

  1.  
    1.  
      1.  
        1. Konselor wajib menghormati harkat, martabat, integritas dan keyakinan klien
        2. Konselor wajib menempatkan kepentingan kliennya diatas kepentingan pribadinya
        3. Konselor tidak diperkenankan melakukan diskriminasi atas dasar suku, bangsa, warna kulit, agama, atau status sosial tertentu
        4. Konselor  tidak akan memaksa seseorang untuk memberi bantuan pada seseorang tanpa izin dari orang yang bersangkutan
        5. Konselor wajib memebri pelayanan kepada siapapun terlebih dalam keadaan darurat atau banyak orang menghendakinya
        6. Konselor wajib memberikan pelayan hingga tuntas sepanjang dikehendaki klien
        7. Konselor wajib menjelaskan kepada klien sifat hubungan yg sedang dibina dan batas-batas tanggung jawab masing-masing dalam hubungan profesional
        8. Konselor wajib mengutamakan perhatian terhadap klien
        9. Konselor tidak dapat memberikan bantuan profesional kepada sanak saudara, teman-teman karibnya sepanjang hubunganya profesional.

D.       KONSULTASI DAN HUBUNGAN DENGAN REKAN SEJAWAT

1.      Konsultasi dengan Rekan Sejawat               

Jikalau Konselor merasa ragu dalam pemberian pelayanan konseling, maka Ia wajib berkonsultasi dengan rekan sejawat selingkungan profesi dengan seijin kliennya. 

2.      Alih Tangan kasus

  1. Konselor wajib mengakhiri hubungan konseling dengan klien bila dia menyadari tidak dapat memberikan bantuan pada klien
  2. Bila pengiriman ke ahli disetujui klien, maka menjadi tanggung jawab konselor menyarankan kepada klien dengan bantuan konselor untuk berkonsultasi kepada orang atau badan yang punya keahlian yg relevan.
  3. Bila Konselor berpendapat bahwa klien perlu dikirm ke ahli lain, namun klien menolak pergi melakukannya, maka konselor mempertimbangkan apa baik dan buruknya.

 

BAB III

HUBUNGAN KELEMBAGAAN

A.       Prinsip Umum

  1. Prinsip Umum dalam pelayanan individual, khususnya mengenai penyimpanan serta penyebaran informasi klien dan hubungan kerahasiaan antara konselor dengan klien berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan kelembagaan
  2. Jika konselor bertindak sebagai konsultan di suatu lembaga,Sebagai konsultan, konselor wajib tetap mengikuti dasar-dasar pokok profesi Bimbingan dan Konselor tidak bekerja atas dasar komersial. 

B.       Keterikatan Kelambagaan

  1. Setiap konselor yang bekerja dalam siuatu lembaga, selama pelayanan konseling tetap menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya.
  2. Konselor wajib memepertanggungjawabkan pekerjaannya kpd atasannya, namun berhak atas perlindungan dari lembaga tersebut dalam menjalankan profesinya.
  3. Konselor yang bekerja dalam suatu lembaga wajib mengetahu program kegiatan lembaga tersebut, dan pekrjaan konselor dianggap sebagai sumbangankhas dalam mencapai tujuan lembaga tersebut.
  4. Jika Konselor tidak menemukan kecocokan mengenai ketentuan dan kebijaksanaan lembaga tersebut, maka konselor wajib mengundurkan diri dari lembaga tersebut.

 

BAB IV

PRAKTEK MANDIRI DAN LAPORAN KEPADA PIHAK LAIN

A.       Konselor Praktik Mandiri

  1. Konselor yang praktek mandiri (privat) dan tidak bekerja dalam hubungan kelembagaan tertentu, tetap mentaati kode etik jabatan sebagai konselor dan berhak mendapat perlindungan dari rekan seprofesi.
  2. Konselor Privat wajib memperoleh izin praktik dari organisasi profesi yakni ABKIN.

B.       Laporan pada Pihak Lain

Jika Konselor perlu melaporkan sesuatu hal ttg klien pada pihak lain (spt: pimpinan tempat dai bekerja), atau diminta oleh petugas suatu badan diluar profesinya, dan ia wajib memberikan informasi tsb, maka dalam memberikan informasi itu ia wajib bijaksana dgn berpedoman pada suatu pegangan bhw dgn berbuat begitu klien tetap dilindungi dan tidak dirugikan.

BAB V

KETAATAN PADA PROFESI

A.       Pelaksanaan Hak dan Kewajiban

  1. Dalam melaksanakan hak dan kewajibannya Konselor wajib mengaitkannya dengan tugas dan kewajibannya terhadap klien dan profesi sesuai kode etik untuk kepentingan dan kebahagiaan klien
  2. Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya sebagai konselor untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud lain yang merugikan klien, atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yg tidak wajar

B.       Pelanggaran terhadap Kode Etik

  1. Konselor wajib mengkaji secara sadar tingkah laku dan perbuatannya bahwa ia mentaati kode etik
  2. Konselor wajib senantiasa mengingat bahwa setiap pelanggaran terhadap kode etik akan merugikan diri sendiri, klien, lembaga dan pihak lain yang terkait
  3. Pelanggaran terhadap kode etik akan mendapatkan sangsi berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh ABKIN