KONFLIK

Posted: 7 Maret 2011 in Bimbingan dan Konseling

KONFLIK

By: Agus Ria Haniati

A. Pengertian Konflik

Soetandyo Wignjosoebroto mendefinisikan secara bebas dari arti harafiahnya itu, ‘konflik’ adalah ‘perbenturan’ antara dua pihak yang tengah berjumpa dan bersilang jalan pada suatu titik kejadian, yang berujung pada terjadinya benturan.  Konflik itu pada umumnya didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang timbul karena adanya niat-niat bersengaja antara pihak-pihak yang berkonflik itu. (www. Google. Com, Diunduh pada tanggal 27-03-2010)

Istilah konflik ini secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama, dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

Konflik adalah suatu bentuk hubungan interaksi seseorang dengan orang lain atau suatu kelompok dengan kelompok lain, dimana masing-masing pihak secara sadar, berkemauan, berpeluang dan berkemampuan saling melakukan tindakan untuk mempertentangkan suatu isu yang diangkat dan dipermasalahkan antara yang satu dengan yang lain berdasarkan alasan tertentu.

(http://humasdepagntb.blogspot.com/2008/08/pengertian-konflik.html, Diunduh pada tanggal 30-04-2010)

Suryanto (2010), menyimpulkan definisi konflik menurut beberapa ahli, bahwa konflik adalah suatu hasil persepsi individu ataupun kelompok yang masing-masing kelompok merasa berbeda dan perdebaan ini menyebabkan adanya pertentangan dalam ide ataupun kepentingan, sehingga perbedaan ini menyebabkan terhambatnya keinginan atau tujuan pihak individu atau kelompok lain.

(http://suryanto.blog.unair.ac.id/2010/02/02/mengenal-beberapa-definisi-konflik/, Diunduh pada tanggal 30-04-2010).

Alo Liliweri (2005:249) dalam Sugiyo (2006:74) mencoba merangkum beberapa definisi konflik dari berbagai sumber, sebagai berikut:

a.         Konflik sebagai bentuk pertengakaran alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok dikarenakan perbedaan sikap, kepercayaan, nilai atau kebutuhan.

b.         Konflik merupakan hubungan pertentangan antara dua pihak atau lebih yang merasa memiliki sasaran-sasaran tertentu namun diliputi pemikiran, perasaan, atau perbuatan yang tidak sejalan.

c.         Pertentangan atau pertikaian karena ada perbedaan dalam kebutuhan, nilai, motivasi  pelaku atau yang terlibat didalamnya.

d.        Suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negative mempengaruhi pihak lain, dengan melakukan kekerasan fisik yang mebuat orang lain terganggu.

Dari beberapa pengertian konflik di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian konflik adalah suatu perbenturan atau perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang antara sekurang-kurangnya dua kelompok atau antar individu yang menyebabkan adanya pertentangan dalam ide ataupun kepentingan, sehingga menjadikan terhambatnya keinginan atau tujuan pihak individu atau kelompok lain.

B. Macam-macam Konflik

Alo Liliweri dalam Sugiyo (2006:78-80) menuliskan beberapa jenis atau tipe konflik, diantaranya adalah :

1.         Konflik sederhana

Tipe ini masih dalam taraf emosi dan muncul dari perasaan perbedaan yang dimiliki individu, macamnya :

a.         Konflik personal versus diri sendiri, terjadi karena apa yang dipikirkan /diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan.

b.        Konflik personal versus personal, bersumber dari perbedaan karakteristik personal.

c.         Konflik personal versus mayarakat, bersumber perbedaan keyakinan kelompok/ masyarakat  atau perbedaan hokum.

2.         Konflik berdasarkan jenis peristiwa dan proses

Konflik dari segi jenis peristiwa memiliki beberapa tipe konflik, yaitu:

a.         Konflik biasa, terjadi hanya karena kesalahpahaman yang didorong oleh factor emosi.

b.        Konflik zero-zum (game), konflik yang hasilnya kemenangan disatu pihak dan kekalahan dipihak lain.

c.         Konflik merusak, mulai dari proses sampai hasilnya merusak relasi social

Berdasarkan segi proses, konflik dibedakan atas :

a.         Konflik yang sedang terjadi

b.        Konflik zero-zum, hasilnya win-win solution.

c.         Konflik produktif, konflik yang dapat diselesaiakan dan hasilnya akan mendorong meningkatnya relasi pihak-pihak yang terkait

d.        Konflik yang dapat dikelola, sifatnya dikelola bagi keuntungan kedua belah pihak.

3.         Konflik berdasarkan factor pendorong

a.         Konflik internal, sering disebut dengan konflik batin karena didorong oleh emosi yang dirasakan sendiri misalnya rasa tersingkirkan, perasaan tidak nyaman, marah, dsb.

b.        Konflik eksternal, terjadi antara dua orang yang mempunyai perasaan kurang senang satu sama lain.

c.         Konflik realistis, merupakan konflik yang nyata, berstruktur, modus operandnya diketahui sehingga dapat dipecahkan dengan negosiasi.

d.        Konflik tidak realistic, terjadi karena alas an yang tidak jelas, tidak nyata, sumber konflik tidak terstruktur. Biasanya terjadi ketika menghadapi pilihan  nilai dan sikap.

Bentuk atau tipe-tipe konflik :

1.         Kompetisi, Yaitu hubungan dan interaksi sosial yang mewujudkan persaingan antara seseorang atau sekelompok orang, atau sekelompok orang lain, dengan tujuan mengalahkannya.

2.         Sengketa, Yaitu hubungan dan interaksi sosial yang terwujud karena adanya seseorang atau sekelompok orang memperebutkan sumber daya yang terbatas dan berharga dari orang sekelompok orang lain.

3.         Balas dendam, Bila suatu sengketa berlarut-larut dan dalam perkembangan persengketaan tadi jatuh korban, maka sengketa dapat berubah menjadi balas dendam.

4.         Perang, Suatu interaksi atau hubungan sekelompok orang dengan sekelompok orang lain, dengan tujuan untuk saling memusnahkan dan menghancurkan. Perang biasanya terjadi karena adanya perbedaan mendasar dalam sistem ideologi dari masing-masing kelompok yang berperang. (http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL3d3dy5jb25mbGljdHJlY292ZXJ5Lm9yZy9iaW4vTEJILUhBTV9LYWxiYXItS2VrZXJhc2FuX0J1a2FuX1BlbnllbGVzYWlhbi5wZGY=, Diunduh pada tanggal 01-05-2010)

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :

1.         konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)).

2.         konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).

3.         konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).

4.         konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)

5.         konflik antar atau tidak antar agama

6.         konflik antar politik (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

C. Ciri-ciri konflik

Barge dalam Sugiyo, (2006:74-75) menyebutkan bahwa konflik memiliki beberapa unsur atau ciri-ciri, diantaranya yaitu:

1.         Melibatkan  dua pihak atau lebih yang berinteraksi.

2.         Ada tujuan yang menjadi sasaran konflik dan sekaligus sebagai sumber konflik.

3.         Ada perbedaan pikiran, perasaan, tindakan di antara pihak yang terlibat untuk mendapatkan atau mencapai tujuan / sasaran.

4.         Ada situasi konflik antara dua pihak yang bertentangan baik situasi antar pribadi, antarkelompok, dan antarorganisasi.

Selain itu, menurut Supriyo (2008:87) gejala-gejala terjadinya suatu konflik dapat diketahui melalui perilaku-perilaku antara lain sebagai berikut :

1.         Terjadi secara terus menerus, sehingga dapat dikatakan sebagai suatu kebiasaan.

2.         Ditandai dengan adanya perasaan jengkel, namun hanya berlalu begitu saja dan munculnya tidak menentu.

3.         Ada perasaan tidak cocok, terkadang marah tetapi emosinya cepat mereda.

4.         Pengelolaan diri yang kurang baik, mengingat bahwa setiap orang memiliki masalah yang sangat kompleks.

5.         Kelompok yang sedang bersaing tidak suka mencari fakta yang akurat tentang lawan saingannya, cenderung emosional.

6.         Terdapatnya sikap putus asa, sebagai akibat dari saling sindir menyindir karena strategi yang digunakan hanya untuk mempertahankan sikapnya sendiri.

7.         Individu tidak senang untuk ditemani (ingin menyendiri), lebih banyak berpikir atau merenung.

D. Factor Penyebab Konflik

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

1.         Penyebab terjadinya konflik dikelompokkan dalam dua kategori besar:
Karakteristik Individual

a.       Nilai sikap dan Kepercayaan (Values, Attitude, and Baliefs) atau Perasaan kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, untuk bertindak positif maupun negatif terhadap suatu kejadian, dapat dengan mudah menjadi sumber terjadinya konflik.

b.      Kebutuhan dan Kepribadian (Needs and Personality) Konflik muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antara kebutuhan dan kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada perseteruan antar pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang memiliki kebutuhan kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk tidak begitu suka bekerjasama dengan orang lain.

c.       Perbedaan Persepsi (Perseptual Differences) Persepsi dan penilaian dapat menjadi penyebab terjadinya konflik. Misalnya saja, jika kita menganggap seseorang sebagai ancaman, kita dapat berubah menjadi defensif terhadap orang tersebut.

2.         Faktor Situasi

a.       Kesempatan dan Kebutuhan Barinteraksi (Opportunity and Need to Interact). Kemungkinan terjadinya konflik akan sangat kecil jika orang-orang terpisah secara fisik dan jarang berinteraksi. Sejalan dengan meningkatnya assosiasi di antara pihak-pihak yang terlibat, semakin mengikat pula terjadinya konflik. Dalam bentuk interaksi yang aktif dan kompleks seperti pengambilan keputusan bersama (joint decision-making), potensi terjadinya koflik bahkan semakin meningkat.

b.      Ketergantungan satu pihak kepada Pihak lain (Dependency of One Party to Another). Dalam kasus seperti ini, jika satu pihak gagal melaksanakan tugasnya, pihak yang lain juga terkena akibatnya, sehingga konflik lebih sering muncul.

c.       Perbedaan Status (Status Differences) Apabila seseorang bertindak dalam cara-cara yang ”arogan” dengan statusnya, konflik dapat muncul. Sebagai contoh, dalam engambilan keputusan, pihak yang berada dalam level atas organisasi merasa tidak perlu meminta pendapat para anggota tim yang ada. (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-konflik-dan-definisinya-serta-faktor-penyebabnya/, Diunduh pada tanggal 30-04-2010)

 

Menurut Supriyo (2008: 88) factor penyebab timbulnya konflik adalah sebagai berikut:

1.         Kepentingan / interest, merupakan sesuatu yang memotivasi seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motivasi ini tidak hanya dari bagian keinginan pribadi seseorang, tetapi juga dari peran dan statusnya karena adanya kepentingan.

2.         Emosi, sering diwujudkan melalui perasaan yang menyertai sebagian besar interaksi manusia, antara lain : marah, benci, takut, cemas, bingung, dan penolakan.

3.         Nilai/value, nilai ini merupakan komponen konflik yang paling sulit dipecahkan, karena nilai merupakan sesuatu hal yang tidak bisa diraba dan dinyatakan secara nyata. Nilai berada pada kedalaman akar pemikiran dan perasaan tentang benar dan salah, baik dan buruk, yang pada umumnya mengarah pada sikap dan perilaku manusia.

Faktor yang mempengaruhi adanya konflik pada sesama manusia adalah:

1.         Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

2.         Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.

3.         Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

4.         Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

E. Akibat Dari Adanya Konflik

Menurut Sadli dalam Sugiyo (2007:78)  mengemukakan bahwa apabila seseorang dapat mengelola konflik sedemikian rupa maka akan memeberikan beberapa manfaat positif diantaranya adalah:

1.         Konflik dapat mebuat kita lebih sadar bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan dalam hubungan antar pribadi kita. Konflik meningkatkan kesadaran kita mengenai masalah yang ada, siapa saja yang terlibat dan cara pemecahannya.

2.         Konflik mendorong perubahan

3.         Konflik membangkitkan tenaga dan menambah motivasi untuk memecahkan masalah.

4.         Konflik membuat kehidupan lebih menarik

5.         Keputusan yang lebih baik umumnya dibuat setelah ada tanggapan-tanggapan dan perbedaan pendapat mengenai keputusan itu diantara orang-orang yang bertanggung jawab membuat –pertimbangan.

6.         Konflik yang dibuka dan diselesaikan itu mengurangi kejengkelan dalam berhubungan dengan orang lain sehari-hari.

7.         Konflik dapat menyebabkan kita memahami diri kita sendiri sebagai pribadi.

8.         Konflik bias menyenangkan apabila kita tidak menganggap terlalu serius

9.         Konflik dapat memperdalam diri dan memperkaya suatu hubungan serta memperkuat keyakinan masing-masing, bahwa hubungan tersebut cukup erat dan tangguh menghadapi tekanan.

Supriyo (2008: 88) menyebutkan dampak-dampak negative dari konflik diantaranya:

1.         mempertajam perbedaan

2.         penghamburan tenaga, biaya, dan waktu yang sia-sia

3.         menurunkan semangat beraktivitas

4.         memilah-milahkan kelompok dan anggota lainnya

5.         merusak kerjasama

6.         menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan

7.         mengurangi produktivitas/hasil kerja

8.         menimbulkan frustasi yang berat, jika belum terselesaiakan sehingga akan berdampak pada kesehatan mental individu.

Hasil dari adanya sebuah konflik adalah sebagai berikut :

1.          Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.

2.          Keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.

3.          Perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.

4.          Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.

5.          Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik, Diunduh pada tanggal 27-03-2010).

F. Cara Mengatas Konflik

Cara penyelesaian konflik atau resolusi konflik yang kita pilih terkadang dapat menyelesaikan konflik dengan baik, namun terkadang justru membuat konflik semakin besar dan panjang. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari masing-masing model resolusi konflik tersebut. Individu diharapkan dapat secara fleksibel menggunakan setiap model resolusi konflik sesuai situasi dan tidak terpaku pada satu model resolusi konflik saja.
Ada lima model resolusi konflik dari Tubbs dan Moss dalam (http://consultationroom.blogspot.com/2009/08/bagaimanakah-cara-mengatasi-konflik.html) , yaitu :

1. Menghindar

Menghindari masalah adalah cara termudah menghadapi konflik. Cara-cara menghindar yang biasanya dilakukan oleh individu adalah dengan menyangkal adanya konflik, tidak memberikan respon, mengalihkan pembicaraan mengenai suatu masalah, menyepelekan diskusi mengenai penyebab suatu masalah atau berpura-pura menganggap konflik yang terjadi sebagai masalah kecil. Individu juga biasanya berusaha menunda-nunda pembahasan mengenai suatu masalah. Keuntungan dari menghindar adalah mencegah penggunaan kata-kata atau respon yang justru dapat meningkatkan konflik.

2. Kompetisi

Cara-cara kompetisi yang biasanya dilakukan adalah menyalahkan pihak lain atau mengajukan kritik (sarkastik, menyindir, menolak untuk disalahkan). Selain itu dapat juga membuat permintaan, tuntutan, atau memperdebatkan masalah. Keuntungan dari cara ini adalah dapat membuat pihak lain akhirnya bersedia merubah tindakannya ke arah yang diinginkan dan memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan secara terbuka.

3. Kompromi

Pada kompromi kedua pihak sama-sama mengorbankan atau memberikan sesuatu untuk pihak lain karena hanya itu satu-satunya cara yang dirasa adil. Resolusi konflik kompromi menjadi cara terbaik apabila tidak ada cara lain yang dapat menyelesaikan konflik secara lebih adil dan memuaskan.

4. Akomodasi

Pada akomodasi, seseorang menekan atau mengorbankan keinginannya sendiri demi menciptakan harmoni dengan pihak lain. Strategi ini biasanya efektif hanya untuk jangka pendek, karena cepat atau lambat keinginan atau kebutuhan yang ditahan tersebut akan muncul terutama saat pihak yang melakukan akomodasi merasa telah berkorban cukup banyak. Keuntungannya adalah hubungan menjadi terlihat baik-baik saja di luar untuk sementara waktu, namun tetap akan berkonflik juga pada akhirnya karena pengorbanan hanya dilakukan oleh salah satu pihak.

5. Kolaborasi

Dalam kolaborasi terdapat kepedulian yang tinggi dalam mencapai tujuan bersama dan menjaga hubungan tetap baik. Di dalamnya terdapat rasa menghargai dan menghormati satu sama lain serta komitmen untuk mencapai solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Kolaborasi dilakukan dengan saling mengungkapkan pikiran dan perasaan secara terbuka dalam iklim yang suportif dengan penuh empati dan rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah demi kepentingan bersama.

Sumber lain menyebutkan beberapa alternatif penyelesaian suatu  konflik, antara lain dengan:

1.         Negosiasi, sebagai salah satu upaya penyelesaian konflik para pihak tanpa melalui proses peradilan denagn tujuan mencapai kesepakatan bersama atas dasar kerjasama yang lebih harmonis dan kreatif melalui mekanisme yang terbuka dan kooperatif.

2.         Mediasi, upaya penyelesaian sengketa para pihak dengan kesepakatan bersama melalui mediator yang bersikap netral, dan tidak membuat keputusan atau kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator untuk terlaksananya dialog antar pihak dengan suasana keterbukaan, kejujuran, dan tukar pendapat untuk tercapainya mufakat.

3.         Konsiliasi, upaya membawa pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan permasalahan antara kedua belah pihak secara negosiasi.

Arbitrase, suatu proses yang mudah yang dipilih oleh para pihak secara sukarela karena ingin agar perkaranya diputus oleh juru pidah yang netral sesuai dengan pilihan dimana keputusan mereka berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. UU No. 30 tahun 1999 : cara penyelesaian satu perkara perdata diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. (pasal 1 angka 1). Selain itu perlu untuk dilakukan Penyadaran masyarakat melalui pendekatan budaya dan agama serta Sosialisasi nilai-nilai sosia) budaya antar etnis yang bertikai, dilakukan secara terus menerus. (http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL3d3dy5jb25mbGljdHJlY292ZXJ5Lm9yZy9iaW4vTEJILUhBTV9LYWxiYXItS2VrZXJhc2FuX0J1a2FuX1BlbnllbGVzYWlhbi5wZGY=, Diunduh pada tanggal 01-05-2010)

DAFTAR PUSTAKA

Soetandyo Wignjosoebroto. (Tanpa Tahun). www. Google. Com. Diunduh pada tanggal 27-03-2010.

Sugiyo. 2006. Psikologi Sosial. Semarang : UNNES. 2007. Komunikasi Antar Pribadi. Semarang : UPT Unnes Press.

Supriyo. 2008. Studi Kasus Bimbingan Konseling. Semarang: UPT Unnes Press

Suryanto. 2010. http://suryanto.blog.unair.ac.id/2010/02/02/mengenal-beberapa-definisi-konflik/. Diunduh pada tanggal 30-04-2010.

Tubb dan Moss. 2009.  (http://consultationroom.blogspot.com/2009/08/bagaimanakah-cara-mengatasi-konflik.html. Diunduh pada tanggal 01-05-2010.

http://humasdepagntb.blogspot.com/2008/08/pengertian-konflik.html. Diunduh pada tanggal 30-04-2010.

http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik. Diunduh pada tanggal 27-03-2010.

http://id.shvoong.com/social-sciences/1838186-makna-konflik/. Diunduh pada tanggal 27-03-2010.

http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL3d3dy5jb25mbGljdHJlY292ZXJ5Lm9yZy9iaW4vTEJILUhBTV9LYWxiYXItS2VrZXJhc2FuX0J1a2FuX1BlbnllbGVzYWlhbi5wZGY=. Diunduh pada tanggal 01-05-2010.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-konflik-dan-definisinya-serta-faktor-penyebabnya/. Diunduh pada tanggal 30-04-2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s