Motivasi Belajar

Posted: 7 Maret 2011 in Bimbingan dan Konseling

SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

By: Agus Ria. H

A. PENGERTIAN

Berdasarkan pendapat dari para ahli mengidentifikasikan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

Hariansyah (2007), dalam Supriyo (2008: 32) menyatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respon terhadap suatu kondisi tertentu.

Swallow (2007) dalam Supriyo (2008:32) mendefinisikan sifat pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa takut atau cemas karena penialain tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.

Supriyo (2008: 32) menyebutkan bahwa pemalu adalah rasa tidak nyaman, cemas atau tacit di dalam setiap kegiatan sosial khususnya karena mereka tidak memahami lingkungannya.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, terminologi malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat.

 

B. CIRI-CIRI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:

1.      Menghindari kontak mata;

2.      Tidak mau melakukan apa-apa;

3.      Terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya);

4.      Tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti “ya”, “tidak”, “tidak tahu”, “halo”;

5.      Tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;

6.      Tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;

7.      Mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu;

8.      Menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah);

9.      Mengalami psikosomatis;

10.  Merasa tidak ada yang menyukainya.

 

C. SEBAB-SEBAB atau LATAR BELAKANG DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Supriyo, 2008 juga menyebutkan bahwa factor penyebab perilaku malu yang paling utama dikarenakan kurangnya kecerdasan sosial yang dimiliki pemalu. Umumnya meraka tidak tahu seni memperkenalkan dirinya dan memulai suatu percakapan, kurang memiliki keterampilan mengetengahkan bahasa tubuh dan tidak tegas. Dengan kata lain sang pemalu umumnya tidak pernah mengetahui bagaimana seharusnya berinteraksi ddengan orang lain secara efektif. Selain kecerdasan sosia, penyebab rasa malu antara lain adalah unsure rendahnya harga diri, pengalaman buruk masa lalu, dan pengalaman tak menyenangkan, kondisi fisik yang kurang sempurna, serta lingkungan keluarga yang kurang nyaman dalam berinteraksi.

 

D. BAHAYA YANG TIMBUL DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang.

Rasa malu sangat berpengaruh cukup besar dalam pergaulan kita dengan orang lain dan perilaku kita didalam masyarakat. Dalam Centi (1993) disebutkan bahwa orang-orang yang tidak aman dengan diri sendiri menjadi orang-orang sebagai berikut:

1.      Mereka tidak memenuhi, tepatnya, mencapai kepenuhan dalam pergaulan, sebab rasa takut mereka menahan dan menghambat langkah dalam pergaulan mereka dengan orang lain.

2.      Mereka mendekatyi orang-orang dengan terlalu hati-hati, mereka berpendapat bahwa orang lain tidak akan berminat atau menghargai mereka, mendekati orang lain dengan pelan, ragu-ragu, cemas sambil menduga bagaimana orang lain akan menerima mereka, dan bertindak sesuai dengan penangkapannya.

3.      Mereka terlalu sadar diri dan cemas tentang bagaimana orang lain melihat mereka.

4.      Mereka berbuat dengan sengaja agar diterima dan disuakai. Mereka mempersiapkan diri untuk ditolak orang, karena terlalu sopan dan kaku perilaku orang pemalu, jadinya terpecah antara usaha untuk disukai dan menjaga agar jangan tidak disukai orang.

5.      Mereka terlalu memandang unsur-unsur negative yang dikira ada pada diri mereka.

Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.

Dalam supriyo, 2008 disebutkan beberapa dampak yang muncul akibat perilaku malu, yaitu terhambatnya perklembangan individu yang mempunyai perilaku malu, semakin tidak terasahnya kemampuan sosial individu, tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang informasi dan pergaulan, kurang pengalaman, menimbulkan kesulitan belajar apabila terjadi pada anak usia sekolah.

 

E. CARA MENGATASI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

Ada beberapa hal yang dap[at dilakukan para orang tua untuk mengatasi rasa malunya, yaitu diantaranya dengan cara sebagai berikut:

  1. Jangan mengolok-olok atau memperbincangkan sifat pemalu anak. Contohnya dengan mengatakan “kamu sih pemalu” atau “iya lho Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali, saya sampai repot dibuatnya”, dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak bisa merasa tak diterima sebagaimana adanya.
  2. Pahami kesukaan dan potensi anak, lalu doronglah ia untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan, ketika berada di toko, anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia mencari mobil yang diinginkan.
  3. Secara rutin ajak anak berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
  4. Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 di atas, anak belum tentu berani bicara pada pelayan toko sekalipun didampingi. Maka, ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di toko dan anak pura-pura bicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada contoh-contoh yang lain.
  5. Orangtua hrus jadi contoh bagi anak. Misalnya, jangan hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga jadilah model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
  6. Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap mendampingi dan tidak langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Centi, Paul J. 1993. “Mengapa Rendah Diri?”. Yogyakarta: Kanisius.

Supriyo. 2008. Studi Kasus bimbingan Konseling. Semarang: CV. Nieuw Setapak.

http://74.125.153.132/search?q=cache:HlBaUo_jDHkJ:www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/10/13/kel1.html+ciri-ciri+PERILAKU+PEMALU&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://74.125.153.132/search?q=cache:Fed47N4GFFEJ:www.pasamankab.go.id/index.php/artikel/47-psikolog/189-anak-pemalu.html+DAMPAK+DARI+PERILAKU+PEMALU&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg04585.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s